Fri. Jul 19th, 2024

Alergi pada Anak Tak Ditangani, Bisa Sebabkan Peradangan Sel Otak

matthewgenovesesongstudies.com, Jakarta Anggota Satker Koordinasi Alergi dan Imunologi IDAI, Profesor. Dokter panti jompo Anang Endarint (K) mengatakan, penyakit fisik dapat mempengaruhi peradangan, perkembangan otak, produktivitas, dan kecerdasan anak di masa depan.

Alergi berupa gatal-gatal yang diikuti pilek mungkin terlihat ringan, namun jika sering terjadi dapat menyebabkan peradangan sel di otak, kata Anang dalam penelitian anak yang dilakukan secara online, Selasa, 19 Maret 2024. tentang alergi game.

Peradangan ini mencegah pertumbuhan sel-sel di otak. Dampak di masa depan berdampak negatif pada fungsi otak.

Annan juga menjelaskan, meskipun alergi pada anak pada anak tergolong sederhana, namun dapat menimbulkan dampak sebagai berikut: Perilaku buruk Perubahan kognitif Disosiasi dari hubungan sosial Stres

Annan menjelaskan, masa kritis anak yang berisiko terkena penyakit ini terjadi pada masa janin dan neonatal.

“Masa kritis bagi seorang anak untuk tumbuh kembang secara intelektual, fisik, mental, emosional, dan spiritual adalah pada masa bayi dan masa bayi,” ujarnya. Alergi pada anak memerlukan pengobatan

Jika seorang anak mengalami penyakit fisik saat masih bayi dan tidak mendapat pengobatan, hal ini dapat menghambat kariernya di masa depan.

“Jika penyakit (investasi) ini tidak bisa kita obati saat ini, maka penyakit itu akan terus berkembang, terus meluas atau meluas, mengganggu tatanan intelektual, mengganggu produktivitas,” kata Anangu.

Di masa depan, pasien juga mungkin dapat menerima pengobatan untuk penyakit lain seperti alergi, penyakit autoimun, diabetes, penyakit kardiovaskular, penyakit neurodegeneratif, dan kanker.

Penyakit anak mempengaruhi masa depannya sehingga harus dideteksi dan diobati sejak dini.

“Oleh karena itu, alergi harus segera dikenali dan jendela penting ini akan sangat efektif di masa depan,” kata Anangu.

Setelah teridentifikasi, kami akan melakukan intervensi. Intervensi terjadi melalui eliminasi (penghilangan pemicu), induksi (usaha menimbulkan gejala), dan pemberian pengobatan jika gejala muncul. Setelah intervensi dilaksanakan, evaluasi harus dilakukan.

“Jadi misalnya seseorang alergi susu sapi, seumur hidupnya dianggap mengidap penyakit susu. Ini tidak boleh. Diapresiasi,” ujarnya.

Jika intervensi diterapkan, intervensi tersebut harus proporsional dan sesuai secara ilmiah. Annan mengatakan pengobatan alergi di Indonesia harus komprehensif dan berpengetahuan luas agar tidak mengancam masa depan anak.

“Meskipun benar bahwa alergi adalah hal yang umum, penting untuk dicatat bahwa alergi dapat berdampak besar pada jiwa Anda dan mungkin ada penyakit tersembunyi di baliknya,” kata Anangu.

Bagian terpenting dalam penatalaksanaan alergi adalah menanamkan kesadaran alergi pada anak dan orang tua melalui pendidikan. Pahami bahwa penyakit fisik memerlukan lebih dari sekedar pengobatan.

Annan menegaskan, betapapun bagusnya kualitas obat yang diberikan dokter, akan sulit efektivitas obatnya jika orang tua dan pasien tidak mempercayainya sepenuhnya.

Annan menjelaskan pentingnya upaya mengatasi alergi, karena alergi tidak hanya menimbulkan penderitaan pada anak, namun juga berdampak pada biaya.

“Perilakunya kurang baik sehingga ketergantungan pada obat. Diberi obat dan membaik, kemudian obatnya habis dan sakit lagi,” kata Anangu.

By admin

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *