Fri. Jul 19th, 2024

Anak Buah Menperin Luruskan Pernyataan Soal Bea Masuk 200% Produk Impor

matthewgenovesesongstudies.com Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Fabri Hendri Anthony Arif angkat bicara mengenai hasil rapat internal pembebasan pajak sektor kesehatan di Gedung Negara yang dipimpin Presiden RI Joko Widodo (Jokowi).

Fabri menjelaskan beberapa hal terkait hasil pertemuan tersebut. Pertama, pertemuan internal berfokus pada ekosistem kesehatan Indonesia dan sektor kesehatan secara keseluruhan, dan isu-isu lain tidak dibahas.

Kedua, di satu pintu, wartawan Istana menanyai Menteri Perindustrian Agus Gumiwang terkait isi pertemuan dan rencana penerapan pajak impor sebesar 200 persen terhadap produk yang diimpor dari beberapa negara produsen.

Sehubungan dengan hal tersebut, kami informasikan bahwa Menteri Perindustrian hanya menjawab pertanyaan mengenai isi rapat mengenai pembebasan pajak sektor kesehatan dan belum menjawab pertanyaan mengenai rencana pengenaan pajak impor sebesar 200 persen terhadap produk impor. Tanggapan Menteri Perindustrian terhadap pengenaan bea masuk sebesar 200 persen terhadap produk impor “Tidak ada pernyataan tujuannya.”

Tiga tanggapan Menperin terhadap laporan kementerian dan lembaga dua minggu ke depan merupakan tindak lanjut dari hasil rapat internal mengenai keringanan pajak sektor kesehatan. Bea masuk sebesar 200 persen atas barang impor.

 

 

Perlu diketahui, Presiden Jokowi memberi waktu dua minggu kepada para menteri untuk memberikan laporan lengkap mengenai hasil rapat eksekutif mengenai insentif pajak bagi industri alat kesehatan, termasuk kemungkinan penggunaan LARTAS. Tim ini akan dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi.

Selain itu, usulan Presiden adalah agar ke depan setelah diterapkannya kebijakan dukungan layanan kesehatan nasional, layanan kesehatan masyarakat bisa lebih murah dan berkualitas.

“Presiden telah memberikan instruksi untuk mengatur sektor dan industri kesehatan serta menarik investasi di industri ini. Pada gilirannya, pembelian obat dan alat kesehatan dapat dipenuhi oleh industri dalam negeri.” – dia berkata.

Peningkatan ekosistem industri farmasi dan alat kesehatan sangat penting untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia akan layanan kesehatan yang berkualitas. Sebab masyarakat membutuhkan fasilitas kesehatan yang mendesak dan terjangkau.

Hal ini sejalan dengan upaya peningkatan produktivitas dan daya saing kedua sektor industri tersebut. Saat ini, industri farmasi masih bergantung pada bahan baku impor.

“Dalam pertemuan tersebut, Menteri Perindustrian menyampaikan beberapa rekomendasi kebijakan yang harus diambil untuk meningkatkan investasi di industri farmasi,” ujarnya.

 

Pertama, usulan agar impor bahan baku obat tidak tunduk pada Peraturan Persetujuan Teknis (PERTEC). Hal ini untuk memudahkan pengadaan bahan baku industri farmasi dalam negeri. Pertech harus diperoleh dari obat-obatan impor.

Kedua, pemerintah mengusulkan Skema Tarif Impor Tulang (BMDTP) terhadap bahan baku obat yang tidak bisa diproduksi di Indonesia, serta pembebasan PPN bahan baku obat lokal.

Pada saat yang sama, sepertiganya meminta industri farmasi dan industri alat kesehatan untuk menerima insentif pajak untuk pertumbuhan, karena saat ini tidak satupun dari kedua industri tersebut menerima fasilitas tersebut.

By admin

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *