Mon. Jul 15th, 2024

BI Bakal Kerek Suku Bunga Imbas Rupiah Loyo, Saham-Saham Ini Bisa Dilirik

matthewgenovesesongstudies.com, Jakarta – Bursa saham pekan ini hanya berlangsung 3 hari yakni 19-21 Juni 2024. Head of Community Indo Premier Sekuritas (IPOT) Angga Septianus mengimbau investor mewaspadai sederet keluhan yang berdampak pada laporan IHSG. Diantaranya adalah suku bunga Bank Indonesia atau BI rate akibat melemahnya rupiah, serta neraca perdagangan dan PMI AS.

BI rate diperkirakan akan menaikkan suku bunga untuk menstabilkan nilai tukar rupiah yang pada Jumat lalu kembali melemah di atas level kritis 16.300, kata Angga dalam keterangan resmi, Kamis (19/6/2024).

Indeks Harga Saham (IHSG) ditutup menguat 1,42% atau 96,73 poin pada level 6.734,83 ​​pada Jumat pekan lalu, 14 Mei 2024, menjelang libur Idul Adha. Angga mengatakan, turunnya IHSG disebabkan oleh berbagai pertimbangan internasional dan domestik.

Kondisi pasar global dipengaruhi oleh keputusan Federal Reserve yang mempertahankan suku bunga acuannya di angka 5.25%-5.50%, The Fed memperkirakan suku bunga AS akan diturunkan satu kali pada tahun ini, inflasi AS di bulan Mei yang turun menjadi 3.3% year- at atau di bawah tingkat konsensus sebesar 3,4%.

“Pasar dunia juga terkena dampak dari CPI Amerika Serikat pada bulan Juni, yang dilaporkan meningkat sebesar 3,3% YoY, lebih rendah dibandingkan kenaikan pada bulan April yang hanya sebesar 3,6%, dan inflasi Tiongkok pada bulan Mei yang sebesar 0,3% pada bulan Juni. secara tahunan. namun di bawah level konsensus 0,4%,” tambah Angga.

Sementara itu, dari dalam negeri, pasar terbebani oleh tingkat kepercayaan konsumen Indonesia pada bulan Juni yang tercatat turun dari 127.7 (tertinggi 11 bulan) ke 125.2, rupiah kembali melemah di Rp 16,486 per USD dan IHSG yang berada di posisi satu. Pekan ini menunjukkan ekspor ke pasar reguler sebesar 4,5 triliun. Rp.

 

 

 

Berkaca dari data perekonomian dan sentimen BI Rate akibat melemahnya Rupiah, Angga menyarankan 3 saham yang menarik untuk diwaspadai pekan ini hingga Jumat 21 Juni 2024:

1. Pasar dengan Pullback ACES (Support 775, Resistance 860)

Kemungkinan kenaikan suku bunga ke depan akibat melemahnya nilai tukar rupee terhadap dolar yang sudah menyentuh level 16.400 menjadi sentimen baik bagi ACES. Ke depan, nilai tukar rupee yang tetap memungkinkan kargo ACES dapat diimpor. Dari segi gaya, ini masih merupakan peningkatan yang solid dibandingkan MA200.

2. Beli pada Breakout UNVR (Support 3.150, Resistance 3.450)

Usulan saham fast moving Consumer Goods (FMCG) ini akan diajukan jelang Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) perseroan pada 20 Juni 2024 pekan depan.

Salah satu agenda RUPSLB adalah penetapan penggunaan laba perseroan tahun buku 2023, yakni pembagian laba bersih dalam bentuk saham. Unilever Indonesia sendiri telah membagikan dividen interim tahun buku 2023 sebesar Rp2,4 triliun atau Rp63 per saham yang akan dibayarkan pada 19 Desember 2023.

3. Pasar dengan Pullback PNLF (Support 270, resistance 314)

Emiten ini bertahan di atas MA200 dan sentimen pendapatan disebabkan oleh tingginya suku bunga bank yang menguntungkan margin ekuitas sektor keuangan. Kemungkinan kenaikan BI rate di masa depan juga menjadi kekhawatiran tambahan.

Sebelumnya, IHSG (IHSG) melemah 2,36 persen pada perdagangan 10-14 Juni 2024. Koreksi IHSG seiring melemahnya nilai tukar rupee terhadap dolar AS dan melemahnya harga produk Indonesia.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) yang ditulis Sabtu (15/06/2024), indeks IHSG turun 2,36 persen menjadi 6.734,83 ​​poin dari 6.897,95 pada pekan lalu. Sementara pasar saham melemah tipis 0,02 persen menjadi Rp11,486 triliun pada 10-14 Juni 2024 dari pekan lalu Rp11,488 triliun.

Selain itu, rata-rata frekuensi perdagangan harian saham turun 2,65 persen menjadi 902 ribu transaksi dari 927 ribu transaksi pada minggu lalu.

Sebaliknya, kenaikan total volume perdagangan harian tertinggi sebesar 60,25 persen menjadi 25,31 miliar lembar saham dari 15,79 miliar lembar saham pada pekan sebelumnya.

Selain itu, rata-rata nilai perdagangan harian saham meningkat 1,93 persen menjadi Rp10,59 triliun dari Rp10,39 triliun. Sepanjang sepekan, investor asing mencatatkan pembelian saham senilai Rp 32,85 miliar.

Semua sektor pasar berada di bawah tekanan minggu ini. Perusahaan energi turun 2,44 persen, perusahaan bahan baku turun 3,5 persen, perusahaan industri turun 4,89 persen. Selain itu, sektor konsumen non-siklus turun 1,58 persen dan sektor konsumen siklis turun 3,84 persen.

Kemudian, sektor kesehatan turun 0,65%, sektor keuangan turun 3,64%, sektor properti dan real estate turun 2,18%. Selain itu, perusahaan teknologi turun 5,32%, perusahaan peralatan infrastruktur turun 0,12%, dan peralatan transportasi dan logistik turun 3,77%.

 

 

Analis PT MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, sentimen IHSG sepanjang pekan ini didorong oleh melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang dipicu oleh menguatnya dolar AS. Hal ini disebabkan oleh sikap bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (Fed) yang terus mempertahankan suku bunga acuan atau kenaikan dalam jangka waktu yang lama.

Pelemahan nilai tukar rupiah menyebabkan terjadinya outflow di pasar modal Indonesia karena iklim investasi bisa dikatakan kurang baik, ujarnya saat dihubungi matthewgenovesesongstudies.com.

Pekan depan, Herditya memperkirakan, IHSG berpeluang menggelar konferensi suatu saat nanti. IHSG akan bergerak menuju level support 6.696 dan level resistance 6.846. “Untuk sepekan ke depan, IHSG akan berada di level support 6.696 dan level resistance 6.846,” ujarnya.

By admin

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *