Thu. Jul 18th, 2024

Data BPS: Ekspor Mei 2024 Tembus USD 22,33 Miliar, Naik 13,82%

matthewgenovesesongstudies.com, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya peningkatan nilai ekspor pada Mei 2024. Tercatat, nilai ekspor Mei 2024 mencapai USD 22,33 miliar, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya.

Deputi Direktur Statistik Produksi BPS M. Habibullah mengatakan nilai ekspor tersebut meningkat 13,82 persen dibandingkan hasil ekspor April 2024.

“Pada Mei 2024, nilai ekspor mencapai 22,33 miliar USD atau meningkat 13,82 persen dibandingkan April 2024,” kata Habibullah dalam konferensi pers, Rabu (19/06/2024).

Ia mencatat, kinerja tersebut didorong oleh nilai ekspor migas yang tercatat sebesar US$1,42 miliar atau meningkat 5,12 persen. Ekspor nonmigas senilai US$20,91 miliar juga meningkat sebesar 14,46 persen.

“Peningkatan nilai ekspor bulan Mei secara bulanan terutama disebabkan oleh peningkatan ekspor nonmigas,” ujarnya.

Diantaranya, barang mesin dan peralatan listrik serta bagian-bagiannya atau kode HS 85 yaitu 26,66 persen dengan porsi 1,34 persen. Terak bijih logam dan abu kode HS 26 menjadi 25,96 persen dengan porsi 1,09 persen. Juga kendaraan dan bagiannya dengan kode HS 87 yaitu 26,80 persen dengan porsi 1,00 persen.

“Saat ini peningkatan ekspor migas terutama didorong oleh peningkatan nilai ekspor minyak tanah dengan nilai pangsa sebesar 0,34 persen,” ujarnya. Dibandingkan tahun lalu

Tak hanya secara bulanan, Habibullah juga mencatat nilai ekspor Indonesia juga mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.  “Secara tahunan, nilai ekspor akan meningkat sebesar 2,86 persen pada Mei 2024,” ujarnya.

Pada Mei 2023, nilai ekspor mencapai USD 21,71 miliar. Hal ini ditopang oleh ekspor migas sebesar $1,31 miliar, ekspor nonmigas dan minyak sebesar $20,40 miliar. 

Komoditas yang menyumbang peningkatan ekspor setiap tahunnya didorong oleh ekspor nonmigas. Khususnya bijih logam, terak dan abu atau kode HS 26, nikel dan produknya kode HS 75 serta peralatan listrik dan bagian-bagiannya kode HS 85.

 

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan barang Indonesia pada April 2024 sebesar US$3,56 miliar. Angka tersebut memperpanjang rekor surplus perdagangan Indonesia selama empat tahun berturut-turut.

Asisten Distribusi dan Jasa Statistik BPS, Pudji Ismartini mengatakan, surplus tersebut mengalami penurunan sebesar 1,02 miliar dolar AS sejak Maret 2024. Tak hanya secara bulanan, surplus tersebut juga menurun dibandingkan April 2023 tahun lalu.

“Pada April 2024, neraca perdagangan barang tercatat surplus US$3,56 miliar atau turun US$1,02 miliar secara bulanan,” kata Pudji dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (15/5/2024).

Oleh karena itu, sejak Mei 2020 atau 4 tahun berturut-turut, neraca perdagangan Indonesia selama 48 bulan berturut-turut menunjukkan surplus. Namun surplus April 2024 lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya dan bulan yang sama tahun lalu, jelasnya.

Berdasarkan data, nilai surplus perdagangan Indonesia mengalami penurunan sebesar USD 1,02 miliar pada Maret 2024. Juga mengalami penurunan sebesar USD 380 juta dibandingkan April 2023.

Ia mencatat, surplus perdagangan April 2024 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas sebesar US$5,17 miliar.

Bahan baku surplus utama adalah bahan bakar mineral atau HS 27, lemak atau minyak hewani nabati atau HS 15 dan besi dan baja atau HS 72.

Surplus perdagangan nonmigas pada April 2024 lebih rendah dibandingkan bulan lalu dan juga bulan yang sama tahun lalu, ujarnya.

“Pada saat yang sama, neraca perdagangan komoditas migas menunjukkan defisit sebesar US$1,61 miliar, dimana minyak bumi dan minyak bumi merupakan penyumbang defisit terbesar.

“Defisit neraca perdagangan migas April 2024 lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya dan bulan yang sama tahun lalu,” tegasnya.

 

Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mencatat kinerja ekspor Indonesia menunjukkan penurunan pada April 2024. Ekspor Indonesia mengalami penurunan sebesar 12,97 persen dibandingkan Maret 2024 atau secara bulanan.

Deputi Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini mengatakan nilai ekspor Indonesia mencapai US$19,62 miliar pada April 2024. 

“Pada April 2024 nilai ekspor mencapai US$19,62 miliar atau turun 12,97 persen dibandingkan Maret 2024,” kata Pudji dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (15/5/2024).

Ia mengatakan, nilai ekspor komoditas minyak bumi dan gas alam (migas) meningkat 5,03 persen menjadi 1,35 miliar dolar AS. Sementara nilai ekspor nonmigas turun 14,06 persen menjadi $18,27 miliar.

Pudji mencatat, penurunan kinerja ekspor Indonesia disebabkan oleh penurunan jumlah ekspor nonmigas. Komoditas yang paling terkena dampaknya adalah kelompok logam mulia dan perhiasan atau batu permata.

“Penurunan nilai ekspor bulan April secara bulanan disebabkan oleh penurunan ekspor nonmigas, khususnya logam mulia dan perhiasan atau batu mulia, khususnya HS 71 yang berkontribusi terhadap penurunan sebesar 2,21 persen,” ujarnya.

Kemudian mesin dan peralatan listrik serta bagiannya atau HS 85 menyumbang penurunan sebesar 1,44 persen. Begitu pula dengan kendaraan dan bagiannya atau HS 87 dengan penurunan sebesar 0,77 persen, lanjutnya.

Sedangkan peningkatan ekspor migas didorong oleh peningkatan nilai ekspor gas dengan kontribusi sebesar 0,80 persen. 

Meski secara bulanan mengalami penurunan, namun kinerja ekspor Indonesia pada April 2024 meningkat dibandingkan April 2023. Pudji mencatat kenaikannya tergolong kecil yakni sebesar 1,72 persen.

Kemudian nilai ekspor secara tahunan akan meningkat sebesar 1,72 persen pada April 2024, ujarnya.

Peningkatan ini disebabkan oleh peningkatan ekspor nonmigas, terutama logam mulia dan perhiasan atau batu mulia atau HS 71, barang besi dan baja HS 73 serta nikel dan barang-barangnya atau HS 75, jelas Pudji.

 

Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati melihat adanya tren surplus perdagangan Indonesia. Namun, ia mencatat bahwa telah terjadi penurunan jumlah surplus akhir-akhir ini.

Kondisi perekonomian global yang rentan mempengaruhi neraca perdagangan Indonesia. Sri Mulyani melihat adanya tren penurunan besaran surplus secara tahunan.

“Kita masih surplus dari sisi neraca perdagangan, ekspor dikurangi impor barang. Tapi surplusnya mulai berkurang atau mengalami penurunan,” kata Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN di Kementerian Keuangan. , Jakarta, Jumat (26 April 2024).

Ia mencatat, terdapat perbedaan yang cukup besar antara nilai surplus perdagangan kuartal I 2024 dengan periode yang sama tahun 2023. Sebenarnya selisihnya sebesar $4,8 miliar.

“Kalau kita lihat tahun lalu, Januari-Maret 2023, surplus neraca perdagangan mencapai $12,1 miliar ($12,1 miliar). Januari-Maret tahun ini, sempat surplus, tapi levelnya 7,31 miliar dolar, penurunannya sebesar 7,31 miliar dolar. 4,8 miliar, itu cukup besar,” tegasnya.

Tapi Indonesia masih surplus neraca perdagangan. Kalau kita lihat pertumbuhan ekspor kita masih merah, pertumbuhannya di level 4,2, negatif, lanjutnya.

Perbendaharaan Negara juga mencermati sisi impor yang mencatat penurunan cukup tinggi dibandingkan bulan lalu, yaitu minus 12,8 persen. Penurunan impor ini konon membuat neraca perdagangan Indonesia tetap positif.

“Namun kita perlu melihat apakah tren dan volatilitas pertumbuhan bulanan akan mempengaruhi rata-rata pertumbuhan 1 tahun. Artinya ekspor kita Januari-Maret stabil pada pertumbuhan negatif yang merupakan koreksi dari tahun 2022 dan awal tahun 2023 yang mana masih sangat tinggi.” dan ini “Masih pada level yang relatif sederhana,” jelasnya.

 

 

 

By admin

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *