Tue. Jul 16th, 2024

Deretan Saham Emiten BUMN yang Geser ke Papan Pengembangan

matthewgenovesesongstudies.com, Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) mengkaji pengalihan pengurus perusahaan tercatat dan kepatuhan (emiten). Ada 109 perusahaan terdaftar yang berpindah dari papan utama ke papan pengembangan.

Beberapa di antaranya termasuk emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Pemutakhiran daftar penghuni Papan Utama dan Papan Pengembangan berlaku efektif mulai tanggal 31 Mei 2024. BEI akan mengevaluasi kembali papan pendaftaran ini pada semester berikutnya yakni. pada bulan November 2024.

Mengutip pesan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Minggu (26/2024), mengacu pada pesan Bursa Efek Indonesia (BEI), “Dengan adanya mekanisme perpindahan papan pencatatan ini, diharapkan emiten semakin membaik. kinerja mereka, sehingga dapat menjadi pilihan investor.

Emiten Grup BUMN yang berpindah dari papan utama ke papan pengembangan antara lain PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), dan PT Kimia Farma Tbk (KAEF). Selain itu, ada PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM), PT PP Presisi Tbk (PPRE), dan PT Phapros Tbk (PEHA) yang dikeluarkan dari papan utama dan kini tercatat di papan pengembangan. 

Pada tanggal 21 Desember 2021, Dewan Pencatatan BEI melakukan penyesuaian persyaratan dan mekanisme pengalihan, persyaratan dewan pencatatan, serta menetapkan pengertian saham yang beredar bebas dengan menerapkan Peraturan Bursa No. I-A tentang pencatatan saham. Dibandingkan dengan saham yang diterbitkan oleh emiten (Lembaran Negara I-A).

Perubahan aturan tersebut salah satunya adalah pengalihan Dewan Pencatatan dari Dewan Utama atau Dewan Ekonomi Baru ke Dewan Pengembangan. Ada beberapa persyaratan bagi perusahaan yang terdaftar di papan utama.

Pertama, mulai Mei 2022, emiten tidak boleh mencatatkan ekuitas negatif pada laporan keuangan terkini, dan tidak mendapat teguran tertulis III dari BEI selama setahun terakhir.

 

 

Selain itu, emiten di papan utama harus memenuhi salah satu dari beberapa kriteria. Antara lain, rasio harga terhadap pendapatan saham perusahaan (price-to-earnings ratio) tidak lebih dari 3 kali nilai pasar pendapatannya. Rasio harga terhadap nilai buku saham tidak lebih dari 3 kali lipat dari rasio harga pasar terhadap nilai buku. Atau nilai modal sahamnya minimal Rp 12 triliun.

Selain itu, jumlah pemegang saham harus lebih dari 750 nasabah yang memiliki Single Investor Identification (SID). Saham yang beredar bebas harus memenuhi beberapa syarat, antara lain 10% atau lebih saham yang beredar bebas dengan modal saham lebih dari 200 miliar rupiah.

Atau proporsi saham yang beredar bebas kurang dari 10%, nilai kapitalisasi saham yang beredar bebas lebih dari Rp 1 triliun. Perusahaan yang terdaftar juga harus mempunyai opini yang sehat selama 2 tahun buku terakhir berturut-turut.

Mulai Mei 2025, untuk menjamin terselesaikannya aspek-aspek penting perusahaan tercatat, perusahaan yang ingin tetap terdaftar tidak boleh mencatat kerugian bersih selama 2 tahun, atau perusahaan tercatat tidak dapat mencatat tingkat pertumbuhan tahunan kumulatif. Minimum 20% dari pendapatan bisnis / CAGR (tingkat pertumbuhan tahunan gabungan) selama 3 tahun terakhir.

Sebelumnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan daftar perusahaan atau emiten yang mengalami pergantian direksi sejak 31 Mei 2024.

Mengutip keterbukaan BEI, Jumat (24/5/2024), BEI mencatat ada 10 emiten yang biayanya dipindahkan dari biaya pengembangan ke biaya utama.

Di antara 10 emiten yang berpindah dari papan pengembangan ke papan utama:

1.PT Bank Capital Indonesia Tbk (BACA)

2. PT Berdikari Yayasan Perkasa Tbk (BDKR)

3.PT Haboo Trans Maritima Tbk (HATM)

4.PT Impac Pratama Industri Tbk (IMPC)

5. PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI)

6. PT Menthobi Kiritama Raya Tbk (MKTR)

7. PT Mulia Industrindo Tbk (MLIA)

8. PT Trans Power Marine TBK (TPMA)

9.PT Cerestar Indonesia Tbk (TRGU)

10. PT Venteny Fortuna Internasional Tbk (VTNY)

Selain itu, terdapat 109 emiten yang berpindah dari papan utama ke papan pengembangan.

“Perubahan penunjukan papan pencatatan ini berlaku mulai 31 Mei 2024, kecuali terdapat klausul khusus yang mempengaruhi keputusan pemindahan papan tersebut sesuai aturan bursa,” dikutip BEI.

Selain itu, apabila terjadi hal/peristiwa tertentu pada perusahaan tercatat sebelum tanggal efektif peralihan pengurusan, maka bursa berhak mengubah pemberitahuan ini.

BEI mengatakan tinjauan kepatuhan dan transfer pencatatan pada Mei 2024 menyebutkan:

1. Bagian VI.2., VI.3., VI.4., VI.5., VI.6., VI.7., VII.3. Peraturan Bursa Efek No. I-A Tentang Pencatatan Saham dan Efek Bersifat Ekuitas Selain Saham yang Diterbitkan oleh Perusahaan Tercatat;

2. Peraturan VI. Peraturan Bursa No. I-V Tentang Ketentuan Khusus Pencatatan Saham dan Saham Selain Efek Bersifat Ekuitas, Yang Diterbitkan Oleh Perusahaan Yang Terdaftar Pada Badan Percepatan

 

 

3. Bagian V. dan VI. Peraturan Bursa Nomor I-Y Tentang Pencatatan Saham dan Saham Selain Efek Bersifat Ekuitas yang Diterbitkan Oleh Perseroan Pada Papan Perekonomian Baru

4. Surat Perintah Direksi Bursa Efek Indonesia No. Kep-00101/BEI/12-2021 tanggal 21 Desember 2021 tentang perubahan Peraturan No. I-A tentang Pencatatan Saham dan Efek Bersifat Ekuitas

“Selain saham yang diterbitkan oleh emiten, berdasarkan ketentuan tersebut dapat kami sampaikan bahwa bursa mempunyai kewenangan untuk melakukan verifikasi kepatuhan dan pengalihan pengurus yang dilaksanakan setiap bulan Mei dan November,” sebut BEI.

 

 

By admin

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *