Mon. Jul 15th, 2024

matthewgenovesesongstudies.com, Jakarta – Penyakit jantung bawaan (PJB) merupakan kelainan struktur jantung atau peredaran darah yang disebabkan oleh adanya cacat pada rahim.

Menurut konsultan ahli jantung dan pembuluh darah Dr Raditio Procoso SPJP(K), 80 persen penyakit PJK belum diketahui penyebabnya. 20 persen sisanya dipengaruhi oleh faktor risiko seperti kelainan genetik dan paparan bahan kimia.

Paparan bahan kimia penyebab PJK, obat-obatan, alkohol, termasuk logam berat seperti lithium dan bahan kimia seperti asam valproat yang terdapat pada obat jerawat.

Asam valproat diketahui mengganggu pembentukan jantung, yang selesai dalam waktu 30 hari kehamilan pada wanita yang belum mengetahui dirinya hamil.

“Pada hari itu, kebanyakan orang bisa terpapar asam valproat tanpa disadari sedang hamil,” ujarnya dalam CARES (Cardiac and Vascular Excellence Scientific Update) 2024, Sabtu. kata Radityo pada 1 Juni 2024.

Radityo melaporkan sekitar 50 persen penyakit jantung bawaan diturunkan melalui garis keluarga, dan usia pasangan di atas 30 tahun meningkatkan risiko penyakit jantung bawaan pada anak.

 

Untuk mencegah penyakit jantung bawaan; Radityo menyarankan agar konseling pranikah dilakukan sesegera mungkin.

“Deteksi dini harus melalui konseling prakonsepsi atau tes pranikah, untuk mengidentifikasi faktor risiko yang mungkin mempengaruhi hasil kehamilan di masa depan,” ujarnya.

Namun, jika Anda sedang hamil, ekokardiografi janin mungkin dilakukan untuk mengetahui apakah janin menderita penyakit jantung bawaan. 

“Fetal echo merupakan USG yang khusus untuk janin dan belum umum dilakukan di Indonesia. Namun ilmu ini akan terus berkembang dan semakin populer dalam 5 atau 10 tahun ke depan,” ujarnya.

 

Pemerintah berupaya mendeteksi penyakit jantung bawaan pada bayi baru lahir secara cepat.

“Dokter anak, ahli jantung, kita bekerja sama untuk deteksi dini penyakit jantung bawaan pada bayi baru lahir melalui pemeriksaan pulse oximetry,” ujarnya.

Oksimetri nadi adalah pemeriksaan kadar oksigen darah pada lengan dan kaki kanan. Tes ini dilakukan saat bayi berusia lebih dari 24 jam atau di rumah sakit. Hal ini dapat dilakukan di klinik bersalin atau di tempat lain, sebelum anak diperbolehkan pulang dari tempat melahirkan.

“Mudah-mudahan pendekatan ini menjadi standar dalam skrining bayi baru lahir,” tegasnya.

 

By admin

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *