Fri. Jul 19th, 2024

Kepala Dinas Intelijen Militer Israel Mundur dari Jabatannya Buntut dari Serangan 7 Oktober ke Gaza

matthewgenovesesongstudies.com, Tel Aviv – Militer Israel pada Senin (22/4/2024) mengumumkan pengunduran diri kepala direktorat intelijennya sebagai tanggapan atas serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober.

Mayor Jenderal Aharon Haliva menyatakan tanggung jawab publik atas kesalahan intelijen yang menyebabkan serangan itu. Menurut tentara Israel, militan Hamas membunuh 1.200 orang dan menyandera sekitar 250 orang dalam serangan itu.

Pihak militer merilis surat pengunduran diri Aharon Haliva pada Senin (22/04), yang menyatakan ia akan mengundurkan diri dan pensiun begitu penggantinya ditunjuk.

“Direktorat Intelijen di bawah komando saya tidak menjalankan tugas yang diberikan kepada kami. Saya membawa hari-hari kelam ini bersama saya selamanya, hari demi hari, malam demi malam. Saya akan menanggung rasa sakit ini selamanya,” tulis Haliva dalam surat itu.

Haliwa menjadi pejabat tinggi pertama yang mengundurkan diri terkait penyerangan tersebut, lapor VOA Indonesia, Senin (22 April).

Israel membalasnya dengan serangan ke Gaza, yang dikatakan bertujuan untuk menyingkirkan Hamas dan memastikan kelompok militan tersebut tidak bisa lagi melakukan serangan terhadap Israel.

Menurut PBB, kampanye Israel telah menyebabkan sebagian besar wilayah Gaza hancur dan memaksa 75% warga Gaza meninggalkan rumah mereka.

Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan operasi militer Israel menewaskan lebih dari 34.000 warga Palestina, dua pertiganya adalah perempuan dan anak-anak.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah mengancam menjelang hari raya Paskah Yahudi untuk “mengirimkan pukulan yang lebih besar dan menyakitkan” terhadap Hamas guna menjamin pembebasan sandera yang ditahan di Gaza. “Kami akan meningkatkan tekanan militer dan politik terhadap Hamas dalam beberapa hari mendatang karena ini adalah satu-satunya cara untuk membebaskan warga kami yang disandera,” kata Netanyahu tanpa memberikan rincian.

Militer Israel mengatakan beberapa sandera yang diculik dalam serangan Hamas di Israel selatan pada 7 Oktober kini ditahan di kota Rafah di Gaza selatan. Netanyahu telah berulang kali mengancam akan melakukan serangan militer terhadap Rafah, dengan mengatakan bahwa anggota Hamas bersembunyi di sana.

Ancaman ini muncul meski ada seruan untuk menahan diri dari komunitas internasional, termasuk Amerika Serikat, sekutu utama Israel.

Kekhawatiran internasional terfokus pada keselamatan warga sipil Palestina di Rafah, di mana lebih dari separuh penduduk Gaza mengungsi dari serangan militer Israel di wilayah lain di Gaza.

Sementara itu, tentara Israel membunuh tiga warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki pada hari Minggu.

Militer Israel mengatakan tiga warga Palestina menyerang tentara Israel di dua lokasi berbeda.

By admin

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *