Fri. Jul 19th, 2024

Mengenal Bakteri Pemakan Plastik yang Disebut Dapat Selamatkan Bumi

matthewgenovesesongstudies.com, Jakarta – Sampah plastik menjadi masalah global yang semakin mengkhawatirkan. Diperkirakan setiap tahunnya 8 juta ton sampah plastik mencemari lautan, mengancam ekosistem laut dan membahayakan kesehatan manusia.

Di tengah krisis tersebut, ilmuwan Jepang berhasil menemukan bakteri pemakan plastik. Bakteri ini disebut Ideonella sakaiensis.

Bakteri tersebut diklaim dapat menguraikan plastik polietilen tereftalat (PET), salah satu jenis plastik yang paling banyak digunakan. Meluncurkan situs Live Science pada Rabu (5/8/2024), Deonella sakaiensis pertama kali ditemukan pada tahun 2016 oleh tim peneliti dari Kyoto University, Jepang.

Bakteri ini ditemukan di sekitar fasilitas daur ulang plastik, yang telah beradaptasi dengan penggunaan plastik sebagai sumber makanan. Penemuan ini cukup mengejutkan karena plastik merupakan bahan yang sangat sulit terurai secara alami.

Plastik PET dapat bertahan di lingkungan selama ratusan tahun. Kemampuan Ideonella sakaiensis dalam menguraikan plastik dalam waktu yang relatif singkat atau hanya beberapa minggu membuka peluang baru untuk mengatasi krisis sampah plastik.

Setelah menganalisisnya, para ilmuwan menemukan bahwa bakteri tersebut menghasilkan dua enzim pencernaan yang disebut hidrolisis PET atau PETase. Enzim ini berinteraksi dengan plastik PET kemudian memecah rantai molekul panjang menjadi rantai pendek (monomer) atau asam tereftalat dan etilen glikol.

Monomer ini dipecah lagi untuk melepaskan energi untuk pertumbuhan bakteri. Tak lama setelah ditemukannya bakteri pemakan plastik, beberapa ilmuwan pun melakukan percobaan pada Ideonella sakaiensis untuk meningkatkan efektivitasnya.

Salah satu eksperimen yang mereka lakukan adalah merekayasa genetika bakteri untuk menghasilkan enzim seperti E. coli dan kemudian mengubahnya menjadi pabrik PETase. Meskipun penemuan ini menawarkan harapan untuk mengatasi sampah plastik dunia, para ilmuwan memperingatkan bahwa masih perlu waktu lama sebelum bakteri tersebut dapat dimanfaatkan secara luas.

 

Menurut penelitian tahun 2020 yang diterbitkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America (PNAS), mereka menggabungkan PETase dengan enzim pemakan plastik lain yang disebut MHETase, untuk membentuk superenzim. Kombinasi enzim PETase-MHETase diproduksi menggunakan synchrotron, sejenis akselerator partikel yang menggunakan sinar X 10 miliar kali lebih terang dari matahari.

Metode ini memungkinkan peneliti mengamati atom setiap enzim dan merancang model molekulernya. Mereka kemudian menyatukan DNA untuk membentuk enzim yang juga dapat memecah polietilen furanoat (PEF), suatu bioplastik berbasis gula.

Di sisi lain, tim peneliti dari Universitas Edinburgh juga telah melakukan eksperimen menggunakan bakteri E. coli untuk mengubah plastik menjadi vanillin, komponen utama ekstrak biji vanillin. Setelah mendegradasi plastik PET berdasarkan monomer basanya, para peneliti mengubah salah satu monomer yaitu asam tereftalat menjadi vanilin melalui serangkaian reaksi kimia.

Selain bakteri pemakan plastik yang ditemukan ilmuwan Jepang, ilmuwan China juga berhasil mengidentifikasi campuran bakteri laut yang diklaim mampu mengurai plastik. Dalam penelitian yang dipublikasikan Journal of Hazardous Materials pada 23 April 2021, tim yang dipimpin Sun Chaomin mengklaim telah menemukan kombinasi bakteri yang mampu menguraikan tidak hanya polietilen tereftalat (PET), tetapi juga plastik yang digunakan untuk membuat tas. .

Kemampuan degradasi campuran bakteri yang diidentifikasi Sun dan timnya dianggap sebagai salah satu hasil terbaik. Meskipun para ilmuwan Tiongkok memperingatkan bahwa diperlukan lebih banyak penelitian.

Menurut catatan International Union for Conservation of Nature (IUCN), banyak spesies laut yang juga menelan sampah plastik atau mikroplastik. Mikroplastik yang tertelan oleh ikan dapat melepaskan polutan beracun ke dalam tubuh organisme.

Racun tersebut dapat terakumulasi dan berpindah dari ikan yang hidup di laut ke tubuh manusia yang mencernanya.

(Tiffany)

By admin

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *