Fri. Jul 19th, 2024

Peringati 1 Suro, TMII Bakal Gelar Ruwatan Akbar untuk Warga Jakarta dan Sekitarnya

matthewgenovesesongstudies.com, Jakarta – Taman Mini Indonesia Indah (TMII) akan menggelar tarian akbar ini dalam rangka menyambut 1 Suro. Ritual penyucian diri akan berlangsung pada Minggu, 7 Juli 2024 di Bale Bundar.

Diinformasikan matthewgenovesesongstudies.com Lifestyle Group pada Selasa, 4 Juni 2024, acara akbar Ruwatan yang diselenggarakan bekerja sama dengan Museum TMII ini digelar mulai pukul 07.00 hingga 12.00 WIB. Ruwatan kali ini mengundang Ruwata Ki Slameta Hadi Santoso yang akan membawakan konser “MURVOKOLO”.

Ki Slamets Hadi Santoso juga akan memimpin para peserta ruvatan atau sukerta saat prosesi berlangsung. Ruwatan Akbar TMII diharapkan bisa mengakomodir masyarakat di Jakarta dan sekitarnya.

Ruvatan merupakan salah satu tradisi budaya yang dipertahankan TMII dari tahun ke tahun. Ruwatan merupakan kegiatan sehari-hari yang diselenggarakan oleh Museum Pusaka setiap bulan Suro penanggalan Jawa atau tanggal 1 Muharram.

Ruwatan berarti “dibebaskan” atau “kiri” dalam bahasa Jawa. Oleh karena itu, tujuan ruwat adalah untuk membebaskan orang yang ruwat dari azab atau laknat Allah yang membawa bahaya atau lebih tepatnya terbebas dan bersih dari segala keburukan dan keburukan hidup/sukert.

Yang dibuat dengan ruvatana dikatakan bebas gula. Ada beberapa persyaratan bagi anggota yang terdaftar, rinciannya dapat diperoleh di kontak Sherry di 0818 0252 8490 dan Yuni di 0813 1573 7414. Pendaftaran terakhir dilakukan pada 30 Juni 2024. Peserta akan diminta membayar biaya khusus. . ah. 

Menurut Citizen Group matthewgenovesesongstudies.com, 18 Juli 2023, malam 1 Suro merupakan salah satu hari yang paling dinantikan masyarakat Jawa karena 1 Suro merupakan tanggal tahun baru dalam penanggalan Jawa. Berdasarkan penanggalan Islam atau Hijriah, 1 Sura bertepatan dengan 1 Muharram atau bulan pertama penanggalan Hijriah.

Malam 1 Suro dirayakan pada malam setelah matahari terbenam pada hari sebelum 1 Suro. Dalam penanggalan Jawa, pergantian hari dimulai saat matahari terbenam pada hari sebelumnya, bukan tengah malam, sebagaimana pergantian hari dalam penanggalan Masehi.

1. Malam Suro banyak dirayakan di daerah Jawa seperti Solo, Jawa Tengah. Warga mengenangnya dengan prosesi kerbau atau tradisi karnaval yang dikenal dengan nama kebo bule atau Kebo Kiai Slamet.

Keraton Yogyakarta juga mempunyai Ritual 1 Malam Suro. Bedanya, Karnaval Malam 1 Suro di Keraton Yogyakarta menghadirkan gunung tupeng, keris, dan benda peninggalan lainnya.

1 Kebudayaan Suro dikenal oleh masyarakat Jawa hingga masa pemerintahan Sultan Agung (1613-1645 M). Saat itu masyarakat Jawa masih menganut sistem penanggalan Saka warisan tradisi Hindu.

Sebaliknya umat Islam menggunakan sistem penanggalan Hijriah Sultan Agung. Dalam upaya menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa, Sultan Agun mengawinkan tradisi Jawa dan Islam dengan mengakui tanggal 1 Muharram sebagai Tahun Baru Jawa.

Orang Jawa dilarang keluar rumah pada malam 1 Suro. Pasalnya, sebagian orang percaya bahwa ada energi buruk yang dapat membawa sial bagi siapa pun yang keluar rumah pada malam itu.

Oleh karena itu tanggal 1 Suro dilarang keluar rumah setelah tengah malam demi keselamatan dan menghindari kemungkinan menemui hal-hal yang tidak diinginkan. Selain keluar rumah, ada larangan berbicara atau membuat keributan pada malam Sura 1.

Oleh karena itu, sedikit sekali masyarakat Jawa yang melakukan ritual meme. Ritual ini biasanya dilakukan di kawasan keraton Yogyakarta. Penduduk setempat dilarang makan, minum atau bahkan merokok selama ritual ini. Masyarakat juga dilarang membicarakan hal-hal negatif yang diyakini dapat menimbulkan kesialan. 

Tab berikutnya adalah pernikahan pada malam Suro 1. Sebagian masyarakat Jawa meyakini bahwa pernikahan di bulan Suro, khususnya pada malam tanggal 1 Suro, akan mendatangkan sial atau nasib buruk, seperti masalah keuangan, kecelakaan, penyakit serius bahkan kematian. 

Namun dari sudut pandang Islam, adakah larangan menikah di bulan Muharram? Kalau dalam Islam, mengingat ada hari-hari sial seperti larangan menikah di bulan Muharram, itu sama saja dengan mencela Allah. Abu Hurairah Radhi Allahu Alayhi Wa Alahi Wa Sallam berkata:

“Janganlah kamu mencela Ad-Dahr (waktu), sebab Allah itu Ad-Dahr” (HR. Muslim no. 224 6).

Arti “Allah itu Ad-Dahr” dijelaskan dalam hadits lain. Abu Hurairah Radhi Allahu Alayhi Wa Alahi Wa Sallam berkata:

Jangan mengkritik Ad-dahr (waktu) di Facebook, karena Allah SWT berfirman: Aku adalah Ad-dahr, malam dan siang milikku, Aku memperbaharuinya, dan Aku menjadikannya usang. yang lain” (HR. Ahmad no. 22605, ditandatangani oleh Al-Albani Silsilah Ash-Shahiahah no. 532).

By admin

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *