Fri. Jul 19th, 2024

Produksi Beras Surplus, Pengamat dan Praktisi Minta BULOG Lakukan Penyerapan

matthewgenovesesongstudies.com, Jakarta Panen raya besar yang berlangsung pada Januari hingga April 2024 diperkirakan akan menyebabkan surplus beras di Indonesia. Hal ini juga menunjukkan bahwa Indonesia tidak perlu melakukan impor karena produksi beras dalam negeri masih mencukupi.

Terkait hal tersebut, Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adiningar Vidyasanti mengatakan, pada Januari-April 2024, Indonesia memiliki potensi surplus beras sebesar 850 ribu ton, dan pada Mei 2024 mencapai 620 ribu ton ton.

“Kalau potensi surplus beras sepertinya Januari-April 2024 kita surplus beras, bahkan Mei,” ujarnya dalam Rakor Pengendalian Inflasi Daerah 2024, Senin (29/4/2024).

Namun, Amalia mencatat BPS memperkirakan akan ada potensi kekurangan sekitar 450.000 ton. Ia mengatakan perhitungan tersebut belum memperhitungkan impor dan mengacu pada data produksi dan konsumsi lokal yang dilakukan pada fase standing crop serta observasi KSA pada Maret 2024.

“Jika mengacu pada data BPS tahun 2023 dan Maret 2022, produksi saat itu hanya 8,92 juta ton gabah kering giling (GKG) dan turun masing-masing sebesar 954 juta ton GKG pada tahun 2023,” ujarnya.

Amalia juga mengungkapkan, pada Maret 2024 produksi mencapai 5,87 juta ton GKG dengan luas tanam hanya 1,11 juta hektar. Dia membenarkan, peningkatan produksi padi pada tahun ini disebabkan oleh perubahan pola tanam dan panen akibat buruknya cuaca El Niño.

“Kalau kita bandingkan April tahun lalu, kita lihat ada perubahan panen, biasanya puncak panen di bulan Maret, tapi tahun ini panen raya di bulan April. Panen pada bulan April tahun ini terlihat relatif lebih tinggi dibandingkan dengan puncak panen tahun sebelumnya,” katanya.

Pengamat Pangan dan Kebijakan Universitas Al Azhar, Ujang Komarudin mengatakan tingginya produksi pada Januari hingga April merupakan keberhasilan pejabat Kementerian Pertanian dalam menjalankan tugasnya sebagai pemimpin pertanian. Ia mengatakan Kementerian Pertanian telah mampu meningkatkan distribusi pupuk dan bahkan melakukan perbaikan cepat terhadap El Niño seperti pemompaan.

“Saya kira produksi yang dilakukan Kementan sangat bagus dan terbukti beras kita surplus berdasarkan perkiraan BPS,” ujarnya.

“Tapi ingat, kalau gabah yang berlimpah ini tidak terserap juga menjadi masalah, oleh karena itu BULOG harus segera menyerapnya,” tambah Wujang.

Ia juga meminta BULOG segera melakukan asimilasi beras lokal agar ke depan Indonesia tidak lagi bergantung pada kebijakan impor dan fokus mencapai swasembada.

Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Yadi Sofyan Noor pun meminta BULOG segera menyerap gabah para petani.

“Bukan sebaliknya, BULOG kurang mampu bersaing dengan pedagang beras dalam membeli gabah dari petani dan terkesan mengandalkan impor untuk pengadaan cadangan beras,” ujarnya.

“Ini puncak panen padi dan jagung, kenapa BULOG tidak bisa menyerap gabah dan jagung petani? Harga di petani turun menjadi hanya Rp4 ribu per kilo. Padahal BULOG sangat berharap bisa menyerap secara maksimal di masa puncak panen ini agar harga gabah tidak turun,” jelas Da.

Ia mengatakan, sikap BULOG yang menyalahkan keadaan untuk menutupi buruknya kinerja penyerapan gabah oleh petani merupakan hal yang aneh dan cenderung mengangkat berbagai persoalan publik seperti penerimaan iuran.

“Akan aneh jika gabah petani memiliki banyak persyaratan, kualitas, dan komplikasi. Nah, kalau hasil panen petani tidak terserap maka petani tidak akan semangat menanam padi, jadi apa yang terjadi tiga sampai enam bulan ke depan,” kata Yadi.

“Nanti BULOG bilang tidak ada hasil panen dan gabah dari petani, jadi tidak dicerna. Jangan salahkan petani,” imbuhnya.

 

(*)

By admin

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *