Mon. Jul 15th, 2024

Produsen Sepatu Bata Tutup Pabrik di Purwakarta, Begini Kinerja Keuangannya

matthewgenovesesongstudies.com, Jakarta – PT Khau Bata Tbk (BATA) mengumumkan penghentian pengerjaan pabrik perseroan di Purwakarta, Jawa Barat yang diputuskan oleh direksi pada 30 April 2024.

Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat 3 Mei 2024, disebutkan Senin (6/5/2024), manajemen PT Khau Bata TBK mengaku telah melakukan banyak upaya dalam empat tahun hingga bangkrut. dan tantangan serta perubahan cepat perilaku konsumen akibat pandemi Covid. Oleh karena itu, perseroan memutuskan untuk menutup operasional pabrik di Prakarta.

“Perusahaan tidak dapat melanjutkan produksi di pabrik Purwakarta karena permintaan pelanggan terhadap produk yang diproduksi di pabrik Purwakarta terus menurun,” tulis Sekretaris Perusahaan PT Shu Bata TBK Hatta Tutuko dalam publikasi BEI.

Selain itu, kata dia, pabrik tersebut mampu memproduksi jauh lebih banyak dari kebutuhan pemasok lokal di Indonesia.

Keputusan penghentian produksi di pabrik PT Shoes Bata Tbk di Purwakarta didasarkan pada keputusan Direksi pada tanggal 30 April 2024 yang sebelumnya telah disetujui oleh Direksi pada tanggal 29 April 2024.

Dengan keputusan ini, perusahaan tidak bisa melanjutkan produksi di pabrik Purwakarta, tulis Hatta.

Hatta mengatakan, keputusan ini merupakan keputusan terbaik yang dapat diambil berdasarkan analisa menyeluruh dan konsensus para pemangku kepentingan, serta bertujuan agar operasional perusahaan dapat berjalan dengan baik

“Perusahaan berkomitmen untuk memberikan perubahan positif bagi seluruh karyawan dan mitra kami yang terkena dampak perubahan ini,” tulis Hatta. Harga saham Bata

Seiring penutupan pabrik Bata di Purwakarta, harga saham BATA anjlok pada perdagangan sesi I Senin 6 Mei 2024. Berdasarkan data RTI, harga saham BATA anjlok 11,58 persen di Rp 84 per saham. Harga saham BATA dibuka flat di Rp95. Saham BATA berada di harga tertinggi Rp95 dan terendah Rp81 per saham.

Total frekuensi perdagangan sebanyak 124 kali dengan volume perdagangan 20.288 lembar saham. Nilai pasar Rp 169,6 juta.

Sebaliknya, jika melihat kinerja keuangan sejak tahun 2020, perseroan melaporkan kerugian. Terkait laporan tahunan Bata Shoes, perseroan melaporkan kerugian sebesar Rp 177,76 miliar pada tahun 2020. Kerugian tersebut bisa direduksi perseroan pada tahun 2021. Kerugian perseroan turun menjadi Rp 51,23 miliar.

Namun perseroan melaporkan penurunan pada tahun 2022. Defisit tahun berjalan meningkat menjadi Rp 106,12 miliar. Sama seperti tahun 2023. Kerugian tersebut meningkat 79,65 persen menjadi Rp 190,28 miliar dibandingkan periode 2022.

Perseroan melaporkan penjualan sebesar Rp459,58 miliar pada 2020. Penjualan tersebut turun 50,64 persen dibandingkan periode 2019 sebesar Rp931,27 miliar. Pada tahun 2021, penjualan perseroan kembali turun. Penjualan sedikit menurun menjadi Rp438,48 miliar pada 2021, turun 4,5 persen dari Rp459,58 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Perseroan melaporkan pertumbuhan penjualan sekitar 46,7 persen​​​​​​​menjadi Rp 643,4 miliar pada tahun 2022. Penjualan kembali menurun pada tahun 2023. Penjualan turun 5,25 persen​​​​​​​menjadi Rp 609,61 miliar pada tahun 2023.

Total produksi perseroan pada tahun 2021 dilaporkan sebanyak 1.578.000 buah. Jumlah produknya meningkat menjadi 1.801.000 dari periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, jumlah produksinya akan turun menjadi 1.153.000 pada tahun 2023.

Lalu bagaimana kinerja keuangan di tahun 2023? Sorotan dari dokumen BEI adalah sebagai berikut:

PT Khau Bata Tbk melaporkan penjualan sebesar Rp609,61 miliar pada tahun 2023. Penjualan turun 5,25 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi Rp643,45 miliar.

Harga produk non-energi mengalami penurunan sebesar 0,74 persen dari Rp383,43 miliar pada tahun 2022 menjadi Rp380,55 miliar pada tahun 2023.

Dengan demikian, total pendapatan akan turun 11,91 persen menjadi Rp 229,05 miliar pada tahun 2023. Pada tahun 2022, total pendapatan perseroan tercatat sebesar Rp 260,02 miliar.

Kerugian usaha meningkat 144,53 persen​​​​ menjadi Rp148,28 miliar pada tahun 2023 dari Rp60,63 miliar pada periode 2022.  Perseroan melaporkan rugi tahun berjalan akibat kepemilikan induk yang meningkat 79,65 persen​​​​​​menjadi Rp 190,28 miliar pada tahun 2023 dibandingkan Rp 105,91 miliar pada tahun 2023.

Perseroan melaporkan kerugian per saham sebesar Rp 146,37 pada tahun 2023, naik dari tahun 2022 sebesar Rp 81,47.

Total ekuitas turun menjadi Rp319,76 miliar dari Desember 2022 ke 2023 meningkat menjadi Rp454,30 miliar dari Desember 2022.

Aset perseroan menurun dari Rp724,07 miliar menjadi 585,73 miliar pada Desember 2022 hingga 2023. Perseroan mengakumulasikan kas dan setara kas senilai Rp2,47 miliar senilai Rp7,50 miliar pada Desember 2022 hingga 31 Desember 2023.

 

 

 

Sebagian masyarakat Indonesia mungkin mulai mengira bahwa sepatu tersebut adalah produk lokal karena sepatu tersebut sudah lama ada di Indonesia. Diketahui sepatu tersebut sudah masuk ke Indonesia sejak tahun 1931.

Saat itu Bata Shoes bermitra dengan perusahaan distribusi sepatu yang beroperasi di Tanjung Priok, Jakarta bernama Nederlandsch-Indische (NV). Enam tahun kemudian, Tomas Bata mendirikan pabrik sepatu Bata pertama di Indonesia.

Diketahui, pabrik sepatu ini pertama kali didirikan di Jl. Kalibata Raya, Jakarta Selatan, DKI Jakarta. Kemudian pada tanggal 24 Maret 1982 perusahaan ini tercatat di Bursa Efek Jakarta atau sekarang dikenal dengan BEI.

Sedangkan pabrik sepatu di Purwakarta, Jawa Barat selesai dibangun pada tahun 1994. Kemudian, pada tahun 2004, Perusahaan Bata mendapat izin impor dan ekspor barang.

Melalui sejarahnya yang panjang, Bata Shoes menjadi merek yang banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia sehingga menjadi produk yang sangat bagus. Terutama populer sebagai sepatu sekolah karena mempunyai tagline tersendiri, misalnya “Back to school”.

 

 

By admin

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *