Tue. Jul 16th, 2024

Yen Jepang Anjlok ke Level Terendah Sejak 1990

matthewgenovesesongstudies.com, Jakarta Yen Jepang melemah pada Senin (15/4), ke level terendah terhadap dolar AS (USD) sejak Juni 1990, karena pasar mewaspadai tanda-tanda intervensi pemerintah kota Jepang untuk mengumpulkan uang. .

Peluncuran Asia Channel News, Selasa (16/4/2024) Pelemahan yen terjadi dilatarbelakangi menguatnya dolar didukung data ekonomi AS yang menunda perkiraan tanggal penurunan suku bunga pertama The Fed menjadi September dari Juni, dan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Dolar terakhir naik 0,66% pada 154,28 yen, terkuat sejak tahun 1990.

Penguatan dolar AS berlanjut pada Senin (15/4) setelah data penjualan ritel bulan Maret yang lebih kuat dari perkiraan. Penurunan nilai tukar yen terhadap dolar menghidupkan kembali ekspektasi intervensi moneter.

Menteri Keuangan Jepang Shunichi Suzuki mengatakan dia memantau dengan cermat transfer tersebut dan Tokyo siap untuk bertindak sepenuhnya.

Diberitakan sebelumnya, nilai tukar rupiah pun anjlok hingga Rp 16.000 per USD.

Mantan Ekonom Indonesia sekaligus Menteri Riset dan Teknologi periode 2019-2021, Bambang Brodjonegoro, mengatakan The Fed tidak menurunkan suku bunga dan konflik antara Iran dan Israel memperkuat dolar AS dibandingkan mata uang lainnya yang tertekan. 

Bambang menyebutkan Bank Indonesia (BI) harus mampu mencegah fluktuasi nilai tukar dolar agar lebih stabil.

Sebagai upaya mengantisipasi dampak suku bunga The Fed, BI kemungkinan akan terus melakukan intervensi terhadap nilai tukar rupiah, ujarnya.

Menurut dia, keputusan menaikkan suku bunga BI bukanlah langkah yang tepat mengingat dolar sedang menguat terhadap hampir seluruh mata uang nasional lainnya. 

Intinya kita akan menghadapi tantangan yang serius di luar negeri, dan ini yang bisa memberi tekanan pada rupiah. Tapi BI juga sulit kalau hanya menggunakan hak dolar untuk melakukan intervensi karena dampaknya akan buruk, jelasnya. . 

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Jumat 12 April 2024. Saat Idul Fitri 2024, rupiah cenderung melemah terhadap dolar AS.

Berdasarkan data Google Finance, dilansir Sabtu (13/4/2023), nilai tukar rupiah mencapai level 16.000 terhadap dolar. Tepatnya pada pukul 21.55 WIB, nilai tukar rupiah berada di level 16.135 terhadap dolar AS pada Jumat 12 April 2024. Terakhir, nilai tukar dolar AS terhadap rupiah berada di kisaran 16.117,80.

Berdasarkan data tradingeconomics.com pada Sabtu 13 April 2024, rupiah menguat terhadap dolar AS sebesar 0,49% ke 16.110. Pada Lebaran 2024, berdasarkan data perekonomian, nilai tukar rupiah cenderung terdepresiasi terhadap dolar AS.

Ekonom Bank Sentral Asia (BCA) David Samuel mengatakan, pelemahan rupiah disebabkan ekspektasi bank sentral AS atau Federal Reserve (Federal Reserve) akan kembali menaikkan suku bunga lebih dari perkiraan pada Juni 2024. AS masih kuat,” ujarnya saat dihubungi matthewgenovesesongstudies.com, Sabtu pekan ini.

David menilai pelemahan rupiah masih terjadi. Hal ini sejalan dengan pendapatan negara-negara berkembang lainnya. “Masih normal. Perkiraan saya rupiah dasar harusnya di atas 16.000. Banyak negara berkembang yang terdepresiasi lebih dari 5 persen, rupiah hanya 2,5 persen year-to-date (ytd). Yen Jepang saja yang turun. 15 persen,” ujarnya.

Selain itu, menurut David, Bank Indonesia (BI) sudah aktif mendukung rupiah sejak bulan lalu. Hal ini juga berdampak pada saldo devisa pada Maret 2024 yang berjumlah sekitar $4 miliar. Pada 28 Maret 2024, saldo devisa tercatat sebesar $140,39 miliar.

“April juga bisa turun karena pembayaran dividen, pembayaran utang, dan upaya stabilisasi rupiah yang dilakukan BI,” ujarnya.

David memperkirakan dalam jangka pendek, rupiah masih menguat dengan kecenderungan melemah seiring dengan perkembangan data perekonomian AS.

Terkait dampak melemahnya rupiah terhadap perekonomian, David menilai perekonomian Indonesia masih stabil selama nilai tukar rupiah tidak banyak mengalami perubahan. Selain itu, indeks kepercayaan dunia usaha dan konsumen juga akan kuat.

Ia menyarankan sejumlah langkah untuk menstabilkan rupiah, terutama menuju stabilisasi agar tidak terlalu berfluktuasi di pasar non-delivery (NDF), SBN, dan spot. “Kebijakan devisanya juga harus optimal,” ujarnya.

David memperkirakan rupiah akan berada pada kisaran 15.800-16.200 terhadap dolar AS pada pekan depan.

By admin

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *