Mon. Jul 15th, 2024

20 Saham Berkapitalisasi Kecil tapi Potensial Tahun Ini, Intip Sektornya

matthewgenovesesongstudies.com, Jakarta RHB Research mengumumkan peluncuran Buku Permata Kecil Cap Kecil RHB Indonesia edisi ke-14, sebuah tonggak sejarah besar dalam rangka merayakan ulang tahunnya yang ke-20 sejak peluncuran pertamanya di Malaysia. Publikasi ini merupakan contoh komitmen RHB Research dalam mengidentifikasi peluang menjanjikan di segmen kapitalisasi kecil.

Dalam edisi terbaru ini, RHB Research mengungkap 20 perusahaan dengan kapitalisasi pasar kurang dari $500 juta, mencakup sektor mulai dari produk makanan ringan hingga perbankan digital, energi terbarukan, dan layanan taksi.

Separuh dari pilihan saham pada edisi kali ini merupakan penambahan emiten baru, yang mencerminkan dedikasi kami untuk selalu mengikuti dinamika pasar yang terus berkembang.

Andre Wijaya, Kepala Riset RHB Securitas Indonesia, mengatakan tim secara cermat menyeleksi saham-saham yang ada di Buku Kecil Permata RHB Indonesia dengan pendekatan top-down dan bottom-up.

“Publikasi ini merupakan contoh komitmen RHB Research dalam mengidentifikasi peluang menjanjikan di segmen kapitalisasi kecil,” kata Andrey dalam keterangannya, Rabu (15/5/2024).

Menurut dia, terdapat 20 perusahaan atau emiten yang mencakup berbagai sektor mulai dari produk makanan ringan hingga perbankan digital, energi terbarukan hingga layanan taksi.

Penambahan emiten baru yang mencakup separuh dari pilihan saham edisi kali ini mencerminkan dedikasi kami dalam beradaptasi terhadap dinamika pasar yang terus berubah, kata Andrey.

“Sekitar 20 persen pilihan kami adalah saham minyak dan pertambangan, didukung oleh perkiraan harga minyak Brent untuk tahun 2024 dan 2025 karena meningkatnya risiko geopolitik,” ujarnya.

Kinerja 20 perusahaan berkapitalisasi kecil terbesar di Indonesia pada tahun 2023 menghasilkan return sebesar 11,4%, mengungguli Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 5,7% dan Indeks Small Mid-Cap Liquid Index BEI sebesar 17,5%. Diproses

Saham-saham berkapitalisasi besar (large cap) masih mengalami tekanan. Mengutip data RTI, IHSG ditutup melemah 0,22 persen ke level 7.083,76 pada Selasa 14 Mei 2024. Indeks LQ45 turun 0,33 persen menjadi 892,58. Sebagian besar indeks saham acuan berada di zona merah.

Koreksi IHSG terjadi di tengah tekanan dari mayoritas saham sektor dan investor asing yang menjual saham. Adrian Jusser, kepala analis ekuitas dan ahli strategi Vine Securitas, mengatakan setidaknya ada tiga alasan eksodus tersebut.

Pertama, perubahan ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga The Fed. Kedua, melemahnya nilai tukar Rupee yang berfluktuasi cukup signifikan dalam dua bulan terakhir. Ketiga, menyesuaikan ekspektasi pasar terhadap potensi pertumbuhan IHSG, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar.

“Untuk faktor pemicu arus keluar yang pertama, valuasi sudah berada pada tingkat yang menarik. Namun pertumbuhan kembali melambat, dan ekspektasi bahwa The Fed tidak akan menurunkan suku bunga akan meningkatkan premi risiko.” siklus penurunan suku bunga,” kata Juicer, Rabu (15/5/2024).

Kecuali ada perubahan dalam ekspektasi The Fed, Juicer mengatakan pengembalian dividen hampir selesai. Dimana banyak perusahaan berkapitalisasi besar yang membagikan dividen. Oleh karena itu, permintaan lokal terhadap dolar diperkirakan akan menurun secara bertahap.

Pada saat yang sama, harga batu bara, minyak sawit dan berbagai komoditas lainnya mulai membaik.

 

Terkait ekspektasi IHSG, Joser mencatat meski harga masih tergolong murah di level saat ini, namun pertumbuhannya akan cukup menantang. Pada akhirnya kebijakan ini akan lebih pro pertumbuhan. Dengan asumsi penurunan suku bunga akan terjadi pada kuartal keempat tahun 2024, maka ini saat yang tepat untuk memasuki pasar saham.

“Jika base case kami benar, posisi ini seharusnya bisa masuk pasar saham secara bertahap pada kuartal kedua, yang sebenarnya sangat menarik,” kata Jusser.

Secara sektoral, dalam 3-6 bulan ke depan, pertumbuhan IHSG akan semakin terakselerasi di sektor non-perbankan, kata Joser. Ia mengatakan, sektor non-perbankan mulai menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik pada tahun ini setelah sempat mengalami tekanan pada periode-periode sebelumnya.

“Untuk penentuan posisi 12 bulan, terutama untuk fundamental, saya pikir akan mulai menarik pada level saat ini. Namun kami melihat jangka waktu investasi lebih panjang. Dengan perkiraan suku bunga, periode cutoff setidaknya pada kuartal keempat. Tahun ini ,” ujarnya, “atau setidaknya awal tahun 2025, sehingga positioning saham akan kembali menarik dalam 12 bulan,” tutup Juicer.

By admin

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *