Sat. Jul 13th, 2024

Cuaca Hari Ini Sabtu 6 Juli 2024: Langit Pagi hingga Siang Jabodetabek Diprediksi Hujan

matthewgenovesesongstudies.com, Jakarta – Langit pagi Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) akhir pekan ini, Sabtu (6/7/2024), diperkirakan akan turun hujan secara umum, kecuali Sukabumi. bogor. , Jawa Barat, akan berawan. Berikut ramalan cuaca hari ini.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan siang ini hujan ringan diperkirakan terjadi di Jakarta Barat, Jakarta Pusat, dan Kepulauan Seribu, serta hujan sedang di Jakarta Selatan.

Peringatan badai petir diprakirakan terjadi di langit Jakarta Timur dan Jakarta Utara siang ini. Malam ini cuaca di Jakarta diperkirakan berawan sebagian disertai hujan ringan.

Waspadai potensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang di sebagian wilayah Jakarta Utara dan Jakarta Timur pada sore hingga malam hari, jelas BMKG.

Daerah penyangga, khususnya Bekasi, Jawa Barat, diperkirakan waspada terhadap terjadinya badai petir pada siang hari ini dan hujan intensitas sedang pada malam hari. Kemudian di Depok, Jawa Barat, siang hingga malam hari waspada dan diperkirakan akan terjadi guntur.

Sedikit berbeda di Kota Bogor, Jawa Barat, diperkirakan akan terjadi peringatan petir dan awan pada siang dan malam hari.

Waspadai potensi hujan disertai petir dan angin kencang setempat antara siang hingga malam hari di sebagian wilayah Kabupaten Indramayu, Kabupaten dan Kota Cirebon, Kabupaten Karawang, Kabupaten dan Kota Bekasi, Kabupaten dan Kota Bogor, Kota Depok, Kabupaten Purwakarta,” jelas BMKG.

Selain itu, Kota Tangerang Banten juga diperkirakan akan mengalami badai dan hujan intensitas ringan pada malam hari pada sore hari ini.

Berikut informasi prakiraan cuaca Jabodetabek lengkap yang dikutip matthewgenovesesongstudies.com dari situs resmi BMKG, www.bmkg.go.id: Kota Pagi Sore Malam Jabodetabek Hujan Ringan Hujan Ringan Hujan Lebat HL True Jakarta Hujan Sedang. Hujan Kecil Hujan Guntur Guntur Kota Bogor Hujan Guntur Awan Tangerang Hujan Ringan Guntur Hujan Ringan

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan meski puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia akan terjadi pada Juli dan Agustus 2024, namun bukan berarti sejumlah wilayah tidak akan turun hujan. .

Anggota Badan Meteorologi BMKG Guswanto mengatakan, banyak wilayah di Indonesia yang sudah memasuki musim kemarau, namun perlu dijelaskan meski berstatus musim kemarau, bukan berarti tidak ada hujan sama sekali. Namun intensitas curah hujan di bawah 50 mm/hari.

“Iya, sebagian besar wilayah Indonesia akan terjadi pada bulan Juli dan Agustus 2024 masing-masing 77,27%, dimana 63,95% durasi musim kemarau diperkirakan berlangsung selama 3 sampai 15 hari. Namun bukan berarti pada musim kemarau tidak ada curah hujan sama sekali, melainkan “Ada curah hujan, meski kisarannya lebih rendah yakni 50 mm/hari,” ujarnya dalam keterangannya, Jumat, 5 Juli 2021. . 2024.

Guswanto menjelaskan, dalam sepekan ke depan, masih ada potensi peningkatan curah hujan yang signifikan di sejumlah wilayah di Indonesia.

Fenomena ini disebabkan oleh dinamika atmosfer yang signifikan dalam skala regional-global, antara lain Madden Julian Oscillation (MJO), Kelvin Khatulistiwa, dan aktivitas Gelombang Rossby di sebagian besar wilayah Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Maluku, dan sebagian besar Papua.

Suhu permukaan laut yang hangat di perairan sekitar Indonesia juga berkontribusi terhadap kondisi yang mendukung tumbuhnya awan hujan signifikan di Indonesia.

Fenomena atmosfer ini menimbulkan dinamika cuaca yang menyebabkan curah hujan terus menerus di sebagian besar wilayah Indonesia, jelas Guswanto.

Sementara itu, Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdhani mengatakan, kombinasi fenomena cuaca tersebut diperkirakan akan menimbulkan kemungkinan terjadinya hujan sedang hingga lebat disertai kilat/angin kencang di sebagian besar wilayah Indonesia pada 5-11 Juli 2024.

Wilayah yang dimaksud adalah Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Pulau Kalimantan, Pulau Sulawesi, Pulau Maluku, dan Pulau Papua.

Andri mengajak masyarakat mewaspadai kemungkinan curah hujan yang dapat menimbulkan bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan banjir bandang.

“Khususnya masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan, pegunungan, tapi juga di sepanjang bantaran sungai,” jelas Andri.

Terkait cuaca ekstrem berupa hujan deras disertai angin kencang dan hujan es yang terjadi di kawasan Bedah, Sawangan, Kota Depok pada 3 Juli, Andri mengatakan, kejadian tersebut disebabkan oleh adanya awan Cumulunimbus (CB). yang terbentuk. karena kurangnya daya angkat atau daya konvektif di area tersebut.

Menurutnya, proses terjadinya hujan diawali dengan mengembunnya uap air yang sangat dingin melalui atmosfer di lapisan atas tingkat pembekuan. Es yang terbentuk umumnya berukuran besar. Jika sejumlah besar es di atmosfer turun, daerah tersebut menjadi lebih hangat dan turun hujan.

Hanya saja, terkadang seluruh es mencair dan berubah menjadi hujan es, suhu maksimum awan CB minus 80 derajat Celcius.

Selain itu, BMKG mengimbau masyarakat memanfaatkan curah hujan yang masih turun untuk menghemat air dan memanfaatkan air secara bijak agar memiliki cadangan air saat puncak musim kemarau melanda wilayah tersebut nanti.

“Kalaupun masih turun hujan, sebaiknya kita manfaatkan untuk menghemat air. Hemat dan bijak dalam menggunakan air agar kita mempunyai cadangan air ketika puncak musim kemarau meninggalkan wilayah kita nanti,” ujarnya.

By admin

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *