Tue. Jul 23rd, 2024

Gejala Depresi pada 2.716 Peserta PPDS, Kemenkes Bakal Berkoordinasi dengan RS dan FK Terkait

matthewgenovesesongstudies.com, Jakarta Hasil skrining kesehatan jiwa terhadap 12.121 peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) atau calon dokter spesialis menunjukkan 22,4 persen atau 2.716 orang menunjukkan gejala depresi.

Terkait hal tersebut, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mengumumkan akan berkoordinasi dengan rumah sakit vertikal dan fakultas kedokteran terkait untuk melaksanakan pengobatan secara komprehensif.

“Jadi kami akan berkoordinasi dengan rumah sakit vertikal dan fakultas terkait untuk melaksanakan pengobatan secara komprehensif,” kata Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI Siti Nadia Tarmizi.

Dalam pemeriksaan kesehatan jiwa peserta PPDS di 28 rumah sakit vertikal pada 21, 22, dan 24 Maret 2024, diketahui tiga persen ingin mengakhiri hidup. Kelompok ini akan segera mendapat pengobatan.

“Apalagi yang punya pikiran untuk bunuh diri harus segera mendapat pertolongan/penyelamatan,” kata Nadia kepada Health matthewgenovesesongstudies.com melalui pesan singkat yang diterima, Selasa, 16 April 2024. Simak apa saja penyebab depresi

Nadia juga mengungkapkan, Kementerian Kesehatan RI bersama rumah sakit vertikal dan sekolah kedokteran terkait akan mencari tahu penyebab gejala depresi pada calon dokter spesialis yang sedang menempuh pendidikan.

“Kami akan mencari faktor-faktor penyebab gangguan kesehatan jiwa kemudian melakukan penilaian untuk perbaikan ke depan,” lanjut Nadia.

Pemeriksaan kesehatan jiwa dilakukan Kementerian Kesehatan terhadap total 12.121 calon dokter spesialis per 21, 22, dan 24 Maret 2024.

Skrining dilakukan di 28 rumah sakit vertikal dengan menggunakan Kuesioner Kesehatan Pasien-9 atau PHK-9.

Dari 12.121 peserta yang dilibatkan, 2.716 atau 22,4 persen menunjukkan gejala depresi. Sebagian besar peserta dengan gejala depresi mempunyai program pendidikan sebagai berikut: Pendidikan khusus untuk 1 anak: 381 (14 persen). Pendidikan dokter spesialis penyakit dalam: 350 (12,9 persen). Anestesiologi: 248 (9,1 persen). Neurologi: 164 (6 persen). Dokter kandungan: 153 (5,6 persen).

  Rincian tingkat gejala depresi pada PPDS

Rincian tingkat depresi pada 22,4 persen peserta PPDS yang mengalami gejala adalah: Sebanyak 0,6 persen diantaranya mengalami gejala depresi berat. Bahkan 1,5 persennya mengalami depresi sedang. Bahkan 4 persen mengalami depresi sedang. Sebanyak 16,3 persen mengalami gejala depresi ringan.  

Laporan Kementerian Kesehatan RI juga merinci rumah sakit penyedia PPDS dengan dokter spesialis penderita depresi yang paling menjanjikan.

Dari 22,4 persen calon dokter spesialis yang mengalami depresi, terbanyak terdapat di: Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM): 614 (22,6 persen). Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS): 350 (12,9 persen). RS Sargito: 326 (12 persen). RS Ngoera: 284 (10,5 persen). RS Vahidin Sudirokhusodo: 240 (8,8 persen).

Hasil skrining kesehatan jiwa peserta PPDS dijawab oleh dokter senior yang juga Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Tjandra Yoga Adityam.

Tjandra mengatakan ada baiknya jika ada perbandingan. Artinya, metode yang sama juga diterapkan pada peserta pendidikan lainnya.

“Mungkin termasuk STPDN (Sekolah Tinggi Negeri Dalam Negeri), universitas ternama dengan kualitas pendidikan tinggi.” “Jika ada perbandingannya, maka kita akan mengetahui apakah tingginya angka depresi hanya terjadi pada peserta program pendidikan kedokteran khusus atau pada dunia pendidikan pada umumnya.”

Tjandra menyarankan agar screening serupa dilakukan pada masyarakat umum.

Faktanya, akan lebih baik jika metode yang sama dalam menilai depresi digunakan pada masyarakat umum. “Berita tentang tekanan ekonomi dan sosial di masyarakat juga bisa memberikan gambaran depresi,” ujarnya.

“Dan bukan tidak mungkin data peserta program pendidikan kedokteran khusus mencerminkan data masyarakat umum,” imbuhnya.

Jika depresi terbukti terjadi di berbagai program pendidikan lain atau bahkan di masyarakat umum, maka bukan tidak mungkin diperlukan program penanganan depresi yang lebih luas.

Dengan ditemukannya gambaran depresi hasil asesmen Kementerian Kesehatan, tentunya tidak berhenti pada angka deskriptif, lanjut Tjandra. Analisis kualitatif sebaiknya dilakukan untuk melihat faktor penyebabnya.

“Analisis kualitatif dan detail ini sangat penting agar kita bisa melihat dengan jelas permasalahan yang ada, apa saja yang pokok, apa saja faktor pendukungnya, apa saja faktor lain yang terkait dan lain sebagainya.

“Dengan begitu (dengan memperluas penyaringan) kami kemudian akan memiliki data berbasis bukti untuk pengambilan keputusan selanjutnya.”

By admin

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *