Tue. Jul 16th, 2024

Ilmuwan China Rekayasa Virus Ebola, Hasilkan Virus yang Lebih Berbahaya

matthewgenovesesongstudies.com, Jakarta – Ilmuwan China berhasil merancang virus Ebola di laboratorium. Akibatnya, virus tersebut dapat menimbulkan gejala yang mengerikan ketika menginfeksi dan membunuh hamster.

Melansir situs South China Morning Post pada Jumat (5/10/2024), virus tersebut dapat membunuh hamster dalam waktu dua hingga tiga hari setelah terinfeksi. Sebuah tim peneliti di Universitas Kedokteran Hebei menggunakan penyakit hewan menular dan menambahkan protein yang ditemukan di Ebola.

Virus percobaan kemudian disuntikkan ke lima hamster betina dan lima hamster jantan, semuanya berumur tiga minggu. Virus ini tampaknya menyebabkan penyakit sistemik yang parah.

Semua hamster betina menunjukkan penurunan suhu dan berat badan sebesar 18 persen. Semua hamster mati antara dua dan tiga hari kemudian.

Sementara itu, lima ekor hamster jantan kehilangan 15 persen berat badannya, dan tiga ekor lainnya mati lebih dari tiga hari kemudian. Dua hamster jantan selamat dan berat badannya bertambah 20 persen lebih banyak dibandingkan sebelum mereka terinfeksi.

Tim kemudian mengambil organ dari hewan yang mati tersebut dan menemukan bahwa virus telah terakumulasi di jantung, hati, limpa, paru-paru, ginjal, lambung, usus, dan jaringan otak. Kadar tertinggi ditemukan di hati, dan terendah di otak.

Para peneliti mengatakan, apa yang terjadi pada hamster di laboratorium juga terjadi pada orang yang terinfeksi Ebola. Pasien Ebola biasanya menderita kegagalan organ.

Salah satu gejala menakutkan yang dialami hamster adalah keluarnya cairan dari matanya. Hal ini menyebabkan penglihatan hamster menjadi terganggu.

Para peneliti menyimpulkan bahwa hamster yang terinfeksi menunjukkan gejala yang cepat, syok hati, dan infeksi sistemik. Penyakit parah serupa juga diamati pada pasien Ebola pada manusia.

Tentu saja, tes virus mematikan ini menimbulkan kekhawatiran akan kebocoran di laboratorium. Namun, peneliti Tiongkok mengatakan mereka hanya ingin menemukan model hewan yang cocok dan dapat meniru gejala Ebola dengan aman di laboratorium.

Studi menunjukkan hamster adalah hewan model yang ideal untuk infeksi Ebola untuk mempelajari penyebaran dan pengobatan penyakit ini di masa depan. Berbeda dengan virus Ebola asli, virus yang digunakan dalam percobaan ini juga tidak memerlukan laboratorium khusus dengan keamanan tinggi.

Karena para ilmuwan menggunakan virus berbeda yang disebut vesicular stomatitis virus (VSV), virus yang direkayasa untuk membawa bagian dari virus Ebola yang disebut glikoprotein (GP) yang berperan penting dalam membantu virus masuk dan menginfeksi sel inang.

Para ilmuwan Tiongkok juga mencatat bahwa uji coba tersebut memberikan evaluasi praklinis yang cepat terhadap perawatan medis pasien Ebola. Hal ini bertujuan untuk membuka jalan menuju pemahaman yang lebih baik tentang virus mematikan ini, guna mengembangkan strategi pengobatan yang efektif.

 

Diluncurkan di situs WHO pada Jumat (5/10/2024), Ebola pertama kali diidentifikasi di Sudan dan Zaire (sekarang Republik Demokratik Kongo) pada tahun 1976. Virus ini menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dengan hebat hingga menimbulkan gejala seperti demam tinggi. , sakit kepala. , pendarahan internal dan kegagalan organ.

Tingkat kematian akibat Ebola bisa mencapai 90 persen, menjadikannya salah satu virus paling mematikan di dunia. Sejak kemunculannya, Ebola telah menyebabkan beberapa wabah besar, terutama di Afrika Barat.

Wabah terburuk terjadi pada tahun 2014 hingga 2016, menewaskan hampir 11.000 orang di Guinea, Liberia, dan Sierra Leone. Virus ini diyakini berasal dari kelelawar, yang kemudian menular ke hewan lain seperti primata dan babi hutan.

Penularan ke manusia terjadi melalui kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, atau jaringan tubuh orang atau hewan yang terinfeksi. Vaksin Ebola adalah cara terbaik untuk melindungi diri Anda dari penyakit ini.

Vaksin ini bekerja dengan cara mengenalkan tubuh pada virus yang rusak atau mati, sehingga tubuh dapat membangun kekebalan terhadap virus tersebut. Vaksin Ebola aman dan efektif, dan telah terbukti melindungi orang dari penyakit ini.

Saat ini tersedia dua jenis vaksin Ebola, Ervebo (Vaxzevria) dan Zabdeno. Vaksin Ervebo (Vaxzevria) adalah vaksin dua dosis yang diberikan dengan selang waktu 8 minggu.

Vaksin ini telah disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Sedangkan Zabdeno merupakan vaksin dosis tunggal yang diberikan melalui suntikan intramuskular. Vaksin ini telah disetujui oleh FDA dan WHO.

(Tiffany)

By admin

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *