Sat. Jul 13th, 2024

Kronologi Bayi Asal Sukabumi yang Meninggal Usai Mendapatkan Imunisasi

matthewgenovesesongstudies.com, Jakarta – Pada Selasa, 11 Juni 2024, seorang bayi berusia kurang lebih 3 bulan bernama MKA meninggal dunia usai vaksinasi di Kota Sukabumi, Jawa Barat.

Laporan Kejadian Ikutan Pasca Vaksinasi (KIPI) pun sudah sampai ke Kementerian Kesehatan RI. 

Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan RI, anak tersebut meninggal beberapa jam setelah menerima vaksin Bacille Calmette-Guérin (BCG) untuk empat jenis vaksin: tuberkulosis (TB), difteri-pertusis-tetanus-hepatitis B. -Untuk mencegah Haemophilus influenza tipe B (DPT-Hb-Hib), obat tetes polio dan diare rotavirus.

Vaksinasi ini berarti vaksinasi ganda atau pemberian lebih dari satu jenis vaksin dalam satu kali kunjungan.

Hasil pemeriksaan yang dilakukan Satgas KIPI Kota Sukabumi bekerja sama dengan Komite Daerah KIPI (KOMDA) Jawa Barat dan Dinas Kesehatan Kota Sukabumi mengungkapkan, bayi tersebut dilahirkan dengan bantuan bidan dan mendapat vitamin K serta hepatitis. B. vaksin

Setelah lahir, bayi MKA tidak pernah dibawa ke Puskesmas. Saat ia berusia 2 bulan 28 hari, orang tuanya membawanya ke Posiandu untuk mendapatkan vaksinasi lebih lanjut.

Oleh karena itu, tujuan vaksinasi ganda adalah untuk memenuhi status vaksinasi dan mengejar vaksinasi yang terlewat.

Tak butuh waktu lama, anak tersebut mengalami gejala anemia setelah divaksin dan pulang ke rumah. Kecuali jika orang tua anak tersebut segera menghubungi Puskasmus.

Petugas vaksinasi langsung mendatangi rumah almarhum dan memberikan pertolongan pertama saat dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan lebih lanjut, kata Ketua Komisi Daerah KIPI Jabar Prof. Dr. Kusanandi Rusmil, Dr., Sapak, M.M.

Sayangnya, sesampainya di rumah sakit, nyawa Baby MKA tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia.

Berdasarkan data Posiandu, hari itu ada 18 anak yang divaksin. Selanjutnya ditemukan 3 anak yang mendapat 4 jenis vaksin yang sama dengan MKA dari bayi meninggal tersebut dan saat ini dalam keadaan sehat.

Menanggapi laporan mencurigakan kematian anak MKA terkait vaksinasi ganda, audit sebab akibat dilakukan oleh Komisi Daerah KIPI Jawa Barat dan Komisi Nasional (Komnas) KIPI.

Oleh karena itu, belum dapat dipastikan apakah penyebab sebenarnya kematian bayi MKA berhubungan dengan vaksinasi ganda. Kursus yang disarankan adalah melakukan serangkaian otopsi.

Audit KIPI dilakukan bersama dengan Komisi Daerah KIPI Jawa Barat dan Komisi Nasional KIPI. Berdasarkan informasi yang ada, hasil audit belum dapat ditentukan penyebab kematiannya, apakah terkait vaksinasi, dan dianjurkan otopsi,” kata Prof Hindra Satari, Presiden Comnas KIPI.

Terkait rencana tersebut, keluarga mendiang bayi MKA tak mau dilakukan autopsi. Belakangan, pihak keluarga juga mencabut tuntutan mereka dari polisi dan kuasa hukum.

“Keluarga tidak menginginkan otopsi dan telah mencabut permintaan polisi dan penasihat hukum. Pihak keluarga menyatakan telah menerima kematian mendiang bayi MKA, kata Hindra.

 

 

Di sisi lain, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI telah mengambil sampel vaksin yang disuntikkan kepada mendiang anak MKA. Hal ini dilakukan untuk menilai kualitas vaksin.

BPOM juga mengambil sampel vaksin yang diberikan kepada mendiang anak MKA. Sampel itu untuk uji kualitas. Jadi sekarang sedang diuji kualitasnya, kata profesor itu. Hindra, Kepala BPOM R.I.

Uji mutu ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai keamanan dan mutu vaksin yang digunakan.

Menurut Prima Josephine, Direktur Manajemen Imunisasi dari Indonesia Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), vaksinasi ganda atau pemberian lebih dari satu jenis vaksin dalam satu kunjungan sangat dianjurkan.

Vaksin ini dianggap aman dan efektif berdasarkan rekomendasi WHO untuk jadwal vaksinasi rutin dan mengejar ketertinggalan.

“Vaksinasi gabungan (pemberian lebih dari satu antigen atau jenis vaksin) sama aman dan efektifnya dengan vaksinasi tunggal,” kata Prima.

Praima juga menegaskan, pemberian suntikan dosis ganda tidak membebani sistem kekebalan tubuh. Antigen dalam vaksin hanyalah sebagian kecil dari antigen yang secara alami ada di tubuh kita setiap hari, tambahnya.

Data ilmiah dari CDC Amerika Serikat menunjukkan bahwa menerima kombinasi vaksin secara bersamaan tidak menimbulkan masalah kesehatan jangka panjang. Berbagai penelitian telah dilakukan dan terbukti bahwa vaksin yang direkomendasikan efektif jika diberikan secara kombinasi atau tunggal.

Beberapa kombinasi vaksin dapat menyebabkan demam yang bersifat sementara dan tidak menyebabkan kerusakan permanen.

Vaksinasi ganda memberikan berbagai manfaat bagi anak di Indonesia, antara lain:

1. Memberikan keamanan sesegera mungkin

Vaksinasi tepat waktu pada usia rentan dapat melindungi anak dari berbagai penyakit berbahaya sedini mungkin. Penting untuk membangun kekebalan yang kuat dan menghindari komplikasi serius.

2. Meningkatkan efisiensi

Vaksinasi ganda menghemat waktu dan tenaga orang tua dan anak. Dalam satu kali kunjungan ke fasilitas kesehatan, beberapa vaksinasi dapat diberikan secara bersamaan sehingga mengurangi jumlah kunjungan.

3. Mengurangi trauma pada anak

Beberapa vaksinasi sekaligus dapat membantu mengurangi kecemasan dan rasa sakit pada anak. Semakin sedikit suntikan yang mereka terima, semakin kecil kemungkinan mereka merasa takut atau kesal.

4. Memperluas cakupan program imunisasi

Dengan menggunakan metode vaksinasi ganda, petugas kesehatan dapat memvaksinasi lebih banyak anak sekaligus. Hal ini dapat meningkatkan cakupan program imunisasi dan memastikan lebih banyak anak mendapatkan perlindungan yang mereka butuhkan.

By admin

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *