Tue. Jul 16th, 2024

Pasar Streaming Video Indonesia Kian Menjanjikan, Pendekatan Lokal Jadi Kekuatan

matthewgenovesesongstudies.com, Jakarta – Konsumsi konten video online di Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan laporan Media Partner Asia, pertumbuhan video online di Indonesia akan tumbuh signifikan pada tahun 2020 hingga 2023.

Laporan lembaga riset tersebut menyebutkan penetrasi video internet di Indonesia masih berkisar 34 persen pada tahun 2020. Sedangkan pada tahun 2023, jumlah tersebut akan meningkat menjadi 50 persen.

Selain total konsumsi video online, pertumbuhan penetrasi konsumsi VOD premium di Indonesia juga sangat pesat.

Pada tahun 2020 tingkat penetrasinya hanya sebesar 3 persen, namun pada tahun 2023 angkanya akan mencapai 7 persen.

“Sebelum pandemi, Indonesia hanya 3 persen, tapi sekarang sudah dua kali lipat,” kata CEO Media Partners Asia Vivek Koto saat media briefing “Streaming Forecast 2024” yang disertai video.

Tak hanya itu, dalam studi yang dilakukan MPA, Vivek menemukan penetrasi rumah tangga SVOD (subscription video on demand) mencapai 13 persen. Jumlah ini bahkan dikatakan lebih tinggi dibandingkan penetrasi TV berbayar.

“TV berbayar sudah ada sejak lama di Indonesia, namun penetrasi maksimal yang didapat TV berbayar hanya 9 atau 10 persen,” kata Vivek. kata Vivek.

Oleh karena itu, menurut Vivek, dalam empat tahun terakhir, layanan video online berlangganan telah mengubah pasar Indonesia, meski kondisi tersebut mungkin berbeda-beda di setiap pasar.

Situasi ini mempengaruhi monetisasi layanan tersebut. MPA mencatat pada tahun 2018, monetisasi layanan VOD premium hanya menyumbang 11 persen dari total pendapatan video online di Indonesia.

Namun pada tahun 2023, monetisasi layanan VOD premium akan mencapai 39 persen dari seluruh pendapatan video online di Indonesia. Peningkatannya mencapai 32 persen.

Sementara untuk pendapatan pasar streaming video berlangganan di Indonesia, MPA memperkirakan nilainya akan mencapai $366 juta atau sekitar Rp5,7 triliun pada tahun 2023. Jumlah ini meningkat 72 persen dibandingkan tahun 2018.

“Jadi pada tahun 2018 nilai pendapatan pasar SVOD di Indonesia hanya sekitar $25 juta. Namun saat ini nilainya sudah mencapai $350 dan kemungkinan akan meningkat di masa depan.

 

Menariknya, berdasarkan data MPA tersebut, pangsa pasar video premium di Indonesia tidak hanya dikuasai oleh pemain internasional, tetapi juga oleh pemain lokal yang kuat, seperti Video.

“Di Indonesia, Video jelas menantang Netflix dalam hal belanja konsumen, termasuk waktu yang dihabiskan konsumen untuk menonton video online,” kata Vivek.

Saat ini, MPAA memperkirakan sektor video online di Indonesia bernilai $1,3 miliar dan diperkirakan akan meningkat dua kali lipat dalam lima tahun ke depan.

Sementara itu, sektor VOD premium di Indonesia saja kini bernilai $500 juta.

Dalam survei tersebut, MPA juga mengungkap temuan mengenai konten favorit konsumen Indonesia. Olahraga, drama lokal, dan Korea Selatan disebut-sebut menjadi konten favorit konsumen Tanah Air.

 

Video sebagai platform OTT lokal memang berhasil menorehkan sederet prestasi luar biasa. Salah satunya, dari laporan MPA kuartal keempat tahun 2023, Vidyo merupakan platform OTT nomor satu di Indonesia berdasarkan jumlah pelanggan.

Platform tersebut berhasil mengalahkan pemain lain seperti Viu, Disney Plus, dan Netflix. Selain itu, menurut jumlah pengguna aktif bulanan dari laporan MPA, video juga menempati peringkat pertama.

Tak hanya itu, data MPAA juga menunjukkan bahwa video memiliki 21 persen penonton VOD di Indonesia. Sementara dari sisi pendapatan, video menguasai bagi hasil sebesar 17 persen.

Keberhasilan video sebagai platform lokal yang mampu bersaing dengan pemain internasional juga bukan tanpa alasan.

Menurut CEO Emtek SCM & Vidio Sutanto Hartono, pencapaian tersebut diraih karena perusahaan menerapkan empat pilar penting.

Pilar pertama yang diterapkan Video adalah penawaran konten lokal. “Karena kita ini bisnis konten, mau tidak mau kita harus memulainya dengan konten sebagai proposisi,” kata Sutanto.

Berdasarkan laporan MPA pada semester pertama tahun 2023, konten lokal masih mendominasi tayangan di kalangan konsumen Indonesia. Bahkan, konten lokal mengungguli konten dari Korea Selatan, Amerika Serikat, Jepang, dan Tiongkok.

 

 

Menariknya, kata Sutanto, pendekatan konten lokal yang ditawarkan Video juga sesuai dengan segmen pasar konsumen yang merupakan pasar yang sangat massal. Sehingga konten ini dapat diterima dengan baik oleh pelanggan.

Selain konten lokal, video tersebut juga menampilkan berbagai tayangan olahraga yang memiliki banyak penggemar. Pilar penting lainnya adalah video membangun hubungan dengan berbagai pihak.

“Kemitraan ini membuat kami lebih agile dibandingkan perusahaan internasional,” kata Sutanto. Kemitraan ini dilaksanakan karena bisnis platform digital relatif kompleks.

Kemitraan dibentuk dengan berbagai pihak, mulai dari perusahaan telekomunikasi, OEM perangkat, hingga mitra distribusi.

Salah satu bukti strategi tersebut adalah hadirnya tombol video khusus pada produk TV yang dikembangkan oleh sejumlah OEM.

Strategi lain yang juga memperkuat predikat perusahaan Indonesia adalah Vidyo merekrut insinyur lokal terbaik. Hal ini dilakukan agar kami dapat menciptakan berbagai fitur yang sesuai dengan kebutuhan konsumen Indonesia.

Hal ini penting karena video adalah platform digital. Oleh karena itu, perlu penerapan produk dan teknologi terbaik untuk memberikan layanan pelanggan.

Terakhir, Video mendapat dukungan emoticon yang membuatnya unik dari platform video lainnya. Dengan dukungan yang diberikan, video tersebut dapat tersinkronisasi dengan ekosistem Emtek. 

By admin

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *