Thu. Jul 18th, 2024

The Fed Revisi Proyeksi, Sektor Saham Apa yang Menarik Dikoleksi?

matthewgenovesesongstudies.com, Jakarta – Situasi perekonomian global yang masih belum stabil terutama disebabkan oleh kebijakan moneter Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve Bank. Tahun lalu, Federal Reserve diperkirakan akan memangkas suku bunganya hingga setengahnya, namun perkiraan tersebut berubah pada tahun ini. 

Ario Perbongso, Head of Fixed Income Research Sinarmas Sekuritas, menjelaskan kebijakan The Fed akan erat kaitannya dengan perekonomian banyak negara, termasuk perekonomian Indonesia.  Federal Reserve menerbitkan perkiraan revisi terbarunya.

Menurut perkiraan terbaru ini, Federal Reserve telah setuju untuk menurunkan suku bunga satu kali dan mengakui bahwa inflasi tetap ada. “Data tersebut menginformasikan kepada pasar bahwa imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun akan mencapai 4,26% pada 20 Juni 2024,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (25/6/2024).

Sebaliknya, imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia bertenor 10 tahun naik dan rupiah melemah menjadi 16.430 terhadap dolar AS.

Aryo melanjutkan, situasi di Indonesia disebabkan oleh ketidakpastian kebijakan pemerintah. Situasi pasar pendapatan tetap Indonesia saat ini menunjukkan adanya peningkatan pasokan obligasi pemerintah meskipun permintaan berkurang.

“Pada saat yang sama, SRBI berada pada posisi yang sangat baik, karena imbal hasil SRBI lebih tinggi dibandingkan obligasi pemerintah dengan durasi yang sama, hingga Rp 780 triliun. Untuk obligasi korporasi, meski menawarkan penawaran lebih tinggi, pasokannya terbatas.” Aryo

Meski ada ketidakpastian, kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan kembali menguat pada kuartal III, kata Wakil Kepala Riset Sinarmas Sekuritas. Pemangkasan suku bunga yang diantisipasi oleh Federal Reserve akan mendukung pelemahan dolar AS, sehingga mendorong likuiditas kembali ke pasar negara berkembang.

“Sektor pertambangan, khususnya logam dasar, bisa menjadi sebuah peluang saat ini. Penurunan suku bunga global diperkirakan akan menghidupkan kembali pertumbuhan ekonomi sehingga berdampak positif pada harga logam dasar. Kenaikan harga akan didukung oleh kebijakan stimulus. di bidang properti yang dilakukan secara intensif oleh pemerintah China,” kata Inaw.

Indeks Harga Saham Gabungan Indonesia (IHSG) turun 14,29 poin atau 0,21 persen menjadi 6.874,87 pada Selasa pagi.

Dikutip dari Antara, Selasa (25/6/2024), kelompok ekuitas terkemuka IHSG 45 atau indeks LQ45 turun 3,18 poin atau 0,37 persen menjadi 861,21 di tengah pelemahan.

Indeks Saham Gabungan (IHSG) berpeluang menguat pada kisaran perdagangannya pada Senin (25/6/2024).

IHSG naik 0,13 persen menjadi 6.889 pada perdagangan 24 Juni 2024 masih didominasi volume pembelian. Analis PT MNC Securitas Herditya Vikasana memperkirakan posisi IHSG saat ini merupakan bagian dari tren label hitam gelombang 1 (3), sepanjang masih bisa melampaui 6.698 sebagai level support.

Namun jika IHSG kembali terkoreksi agresif dan masuk ke 6.639, ketahuilah IHSG akan menguji 6.450-6.562 di zona merah, ujarnya.

Herditya memperkirakan IHSG akan berada di level support 6.698,6.639 dan level resistance 6.959,7.023 pada Selasa pekan ini.

 

By admin

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *