Mon. May 20th, 2024

matthewgenovesesongstudies.com, Jakarta – Hasil skrining kesehatan jiwa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) menunjukkan 2.716 calon dokter spesialis mengalami gejala depresi.

Jumlah 2.716 atau 22,4 persen tersebut berasal dari calon dokter yang sedang menjalani pelatihan di berbagai spesialisasi. Rincian terbanyak calon dokter spesialis yang sedang menjalani: Pelatihan dokter spesialis 1 anak: 381 (14 persen). Pendidikan khusus penyakit dalam: 350 (12,9%). Anestesiologi: 248 (9,1 persen). Neurologi: 164 (6 persen). Dokter kandungan: 153 (5,6 persen). Detail tingkat gejala depresi PPDS

Sedangkan rincian data tingkat depresi pada 22,4 persen penderita PPDS yang mengalami gejala adalah sebagai berikut: Sebanyak 0,6 persen mengalami gejala depresi berat. Hingga 1,5 persen mengalami depresi sedang. Hingga 4 persen mengalami depresi sedang. Sebanyak 16,3 persen memiliki gejala depresi ringan.

Berdasarkan postingan Instagram @pandemictalks pada Selasa, 16 April 2024, sekitar tiga persen di antaranya mengaku yakin lebih baik mengakhiri hidup atau ingin mencelakai diri sendiri dengan berbagai cara.

Sebelumnya diberitakan, Kementerian Kesehatan telah melakukan tes skrining depresi pada 21, 22, dan 24 Maret 2024 terhadap total 12.121 calon dokter spesialis.

Skrining dilakukan di 28 rumah sakit vertikal dengan menggunakan Kuesioner Kesehatan Pasien-9 atau PHK-9. Rumah Sakit dengan jumlah gejala depresi PPDS terbanyak

Laporan Kementerian Kesehatan RI juga merinci rumah sakit yang menyediakan PPDS kepada dokter spesialis depresi yang paling menjanjikan.

Dari 22,4 persen calon dokter spesialis yang mengalami depresi, mayoritas berada di: Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM): 614 (22,6 persen). Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS): 350 (12,9%). RS Sargito: 326 (12 persen). RSUD Ngoerah: 284 (10,5 persen). RS Vahidin Sudirohusodo: 240 (8,8 persen).

Hasil tes skrining ini mendapat tanggapannya dari dokter senior, Prof. Tjandra Yoga Adityam.

Terkait data Kementerian Kesehatan mengenai depresi (bahkan pikiran untuk bunuh diri, dll) pada peserta Program Diklat Dokter Spesialis (PPDS) Rumah Sakit Vertikal Kementerian Kesehatan yang mendapat banyak komentar dari kalangan kesehatan dan pendidikan, ada Setidaknya ada empat hal yang perlu diperhatikan,” kata Direktur Pascasarjana Universitas IARSI kepada Health matthewgenovesesongstudies.com, Selasa (16/04/2024). Studi banding peserta pendidikan lain

Pertama, kata Tjandra, ada baiknya ada perbandingan. Artinya, metode yang sama juga diterapkan pada peserta pendidikan lainnya.

“Mungkin termasuk STPDN (Sekolah Menengah Negeri) yang merupakan universitas ternama yang menawarkan pendidikan berkualitas.” “Jika terjadi perbandingan, kita akan mengetahui apakah tingginya angka depresi hanya terjadi pada peserta program pendidikan kedokteran khusus atau di dunia pendidikan pada umumnya.”

Kedua, lanjut Tjandra, alangkah baiknya jika metode penilaian depresi yang sama diterapkan pada masyarakat umum.

Berita tentang tekanan ekonomi dan sosial di masyarakat juga dapat memberikan gambaran mengenai depresi. Mungkin juga data peserta program pendidikan kedokteran khusus mencerminkan data populasi umum.

Ketiga, dengan ditemukannya gambaran depresi yang muncul dari penilaian Kementerian Kesehatan, tentunya tidak berhenti pada angka deskriptif saja, maka perlu dilakukan analisis kualitatif untuk melihat faktor penyebabnya.

“Analisis kualitatif dan detail ini sangat penting untuk melihat secara jelas permasalahan yang ada, apa saja permasalahan utamanya, apa saja faktor pendukungnya, apa saja faktor terkait lainnya dan lain sebagainya. “Dengan melakukan hal pertama, kedua, dan ketiga, kita akan memiliki data ‘berbasis bukti’ untuk pengambilan keputusan selanjutnya.” Ini perlu segera diobati

Keempat, penderita depresi harus segera diobati. “Jika ternyata depresi juga terjadi di berbagai program pendidikan lain, atau bahkan di kalangan masyarakat umum, maka kemungkinan diperlukan program pengobatan depresi yang lebih luas,” tutup Tjandra.

By admin

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *