Wed. May 22nd, 2024

Ekonom Indef Beri Tahu Cara agar Indonesia Tak Terdampak Konflik Iran-Israel

matthewgenovesesongstudies.com, Institute for Economic and Financial Development Jakarta (Indef) menyoroti dampak eskalasi konflik Iran-Israel. Namun, ada beberapa cara yang menurut Indonesia dapat dilakukan untuk mengurangi dampaknya terhadap perekonomian nasional.

Indonesia harus memperkuat fondasi perekonomian nasional, kata Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti. Misalnya dengan meningkatkan rasio ekspor ke luar negeri dan produksi devisa.

Kemudian, Indonesia juga perlu mengoptimalkan pendapatan dari sektor pariwisata. serta mengurangi ketergantungan terhadap negara lain.

“Yang perlu dilakukan Indonesia adalah memperkuat fundamental perekonomian dengan meningkatkan ekspor atau devisa dari sektor seperti pariwisata, kemudian dengan pendekatan ekspor barang nonmigas, dan hal lainnya adalah kita perlu mengurangi ketergantungan terhadap asing. negara. “, jelas Ester. Dalam diskusi Indef, Sabtu (20/4/2024).

Ia mencatat, jika Indonesia bergantung pada pasokan dari negara lain, seperti impor, dampaknya Indonesia akan semakin rentan.

“Jadi kalau kita semakin ketergantungan, maka kita akan semakin rentan jika ada sedikit guncangan pada variabel shock global yang datang dari luar,” ujarnya.

“Tetapi jika ketergantungan kita berkurang, saya pikir apapun yang terjadi di luar hal tersebut tidak akan mempengaruhi perekonomian domestik, atau kita dapat mengasumsikan dampak dari apa yang terjadi secara global,” tambah Esther.

Diberitakan sebelumnya, Institute for Economic and Financial Development (INDEF) menyoroti dampak eskalasi konflik Iran dan Israel yang menyebabkan kenaikan harga komoditas. Hal ini dikhawatirkan akan membebani pendapatan dan belanja anggaran pemerintah (APBN).

CEO Indef Esther Sri Astoti mengatakan APBN mungkin mendapat tekanan akibat tingginya harga komoditas. Oleh karena itu, perlu upaya untuk menghemat biaya dengan menggunakan kas negara.

Ester percaya bahwa sebagian belanja pemerintah harus diarahkan pada belanja produktif dibandingkan belanja barang-barang konsumsi. Ditegaskannya, salah satu hal yang dibutuhkan konsumen adalah anggaran untuk program makan siang gratis.

“Jadi yang perlu dilakukan pemerintah pertama adalah melihat kembali berbagai anggaran belanja tersebut agar lebih tepat sasaran pada belanja produktif, bukan hanya belanja konsumen saja, seperti makan siang gratis, saya kira itu konsumsi,” jelas Ester. » Diskusi, Sabtu (20.4.2024).

Ia berharap belanja pemerintah yang produktif akan menghasilkan sektor bisnis yang bergairah. Dengan demikian, pergerakan perekonomian nasional dapat berkelanjutan.

Ia menegaskan, namun sebaiknya fokus pada pengeluaran produktif yang dapat menghasilkan pendapatan atau produktivitas dari sektor komersial, dan dalam hal ini akan berdampak jangka panjang.

“Jika belanja pemerintah ini bisa dialihkan ke belanja yang lebih produktif, saya kira ini akan membuat pertumbuhan ekonomi kita lebih berkelanjutan dan terkendali dalam jangka panjang,” lanjut Ester.

Esther menjelaskan kenaikan harga minyak dunia berdampak pada biaya transportasi. Akibatnya, hal ini akan menyebar hingga menaikkan harga barang lainnya.

Lanjutnya, “Karena kenaikan harga minyak tinggi, kalau kita bicara APBN, ada yang namanya asumsi makro, indikator makroekonomi, nah ini pasti akan mempengaruhi alokasi anggaran atau anggaran, besar kecilnya anggaran dalam anggaran. APBN. “Ada,” jelasnya.

Dia mengindikasikan beban tersebut akan membuat APBN defisit. Nilainya diperkirakan 2-3%. Oleh karena itu, diperlukan upaya penataan kembali penggunaan dana dalam menghadapi kondisi geopolitik global tersebut.

Lanjutnya, karena kenaikan harga minyak diperkirakan akan terjadi defisit keuangan sebesar 2 hingga 3 persen. Kalau kita gagal mengelola anggaran di APBN, bisa jadi itu ruang fiskal kita. Jauh lebih kecil,” tutupnya.

By admin

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *