Mon. May 27th, 2024

Halal Bihalal Selepas Ramadhan, Cara Menyempurnakan Peleburan Dosa Antar Manusia

matthewgenovesesongstudies.com, Jakarta Halal Bihalal dikenal saling menyapa dan memaafkan di hari raya Idul Fitri. Padahal, meski Idul Fitri telah berlalu, Halal Bihalal biasanya dilakukan pada hari pertama masuk.

Halal bihalal dianggap sebagai kegiatan positif dalam perspektif Islam. Pengasuh Pesantren Al-Mansuriya Kalijaring, Tembelung, Jombang, KH Ahmad Rosiki juga mendorong umat Islam untuk mengamalkan halal bihalal.

Pasalnya, tradisi mohon ampun yang hanya ada di Indonesia ini diyakini dapat mengabulkan doa.

“Halal adalah solusi paling pasti dari dosa bihalal, maka ampunilah sesamamu manusia,” kata Ahmed Roziki seperti dikutip NU Online, Selasa (16/4/2024).

Kiai Roziki menjelaskan, penebusan dosa berkaitan dengan puasa Ramadhan dan segala ritualnya. Berbagai literatur menyebutkan bahwa Allah menjanjikan pengampunan dosa bagi yang hendak berpuasa, Qiyamul Lail dan ritual lainnya.

Hal ini terdapat dalam hadits tentang keutamaan puasa yang terdapat dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, hadits tersebut adalah:

مِن سامُ رُمُدانُ يمانًا واحْتِسابًا له ما تُقُدِمُ مِن ذُ نْبِه

Arti:

“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Hal serupa juga diungkapkan oleh Sulathon al-Ulama Syekh ‘Izz al-Din bin Abd as-Salam ketika menjelaskan ayat penutup kewajiban puasa dalam kitab Maqashid as-Shaum karya Syekh Izz al-Din bin Abd al. – memiliki. ‘Aziz bin. Abd as-Salam, yaitu:

Artinya matahari akan terbit dari matahari dan matahari akan naik ke tingkat api.

Arti:

“Maksudnya puasa dapat dijadikan perlindungan terhadap siksa neraka. Sebab, puasa menyebabkan pengampunan dosa yang dapat membawa pelakunya ke neraka.”

Demikian pula halnya dengan Qiyamul Lail (ibadah di malam hari). Amalan ini juga dapat menghapuskan dosa-dosa praktisinya. Menurut hadits Sahih Bukhari dan Sahih Muslim:

عن عبي حريرا – ردي الله عنه – Bahwa Rasulullah – صلى الله عليه وسلم – berkata, setuju عَلَيْهِ.

Arti:

“Barangsiapa yang menunaikan Qiyamul Lail (sholat sunnah malam) di bulan Ramadhan berdasarkan keimanan dan pengharapan pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Meskipun demikian, dosa yang diampuni adalah dosa kecil yang berhubungan dengan kekuasaan Tuhan, bukan dosa sesama manusia.

Kiai Roziki mengatakan, “Seperti salah satu ajaran kitab Riyad Shalihin, Dalil al-Falihin menjelaskan bahwa dosa yang diampuni hanyalah dosa kecil yang haknya adalah milik Allah.”

Ketika berbuat dosa dengan sesama manusia, solusi yang diberikan Nabi adalah dengan mencari halal atau ampunan kepada orang yang dizalimi.

Cara mencari halal atas ketidakadilan yang dilakukan terhadap orang lain bisa menjauhkan diri dari tradisi umat Islam di negeri ini, yaitu halal bihalal.

Universitas Al-Azhar Kairo mengatakan: “Yang berikutnya adalah jujur ​​dalam halal dan halal, jujur ​​dalam meminta halal dan jujur ​​dalam membenarkan kesalahan orang lain, sehingga dosa-dosanya berkaitan dengan hak sesama. manusia diampuni” alumni Mesir.

Menurutnya, semakin dermawan seseorang dalam memberikan rahmat tanpa pandang bulu, baik orang tersebut berbuat baik atau tidak, maka orang tersebut semakin al-Washil, yaitu. yang mengikat tali persaudaraan.

Menurut hadis Nabi:

Rasulullah SAW bersabda: Bukan dia yang mendapat pahala, melainkan dia yang ketika rahmatnya terputus, dia menambahkannya⁵

Arti:

“Orang yang bergabung dalam persaudaraan bukanlah al-Muqaafi (yang kebaikannya hanya untuk orang-orang baik), namun dialah yang terus bergabung meskipun persaudaraan itu putus (walaupun kebaikannya tidak dihargai dan tidak dihargai, dia tetap berperilaku) baik) dan dijawab dengan kebaikan).

Kiari Roziki berharap, yang melaksanakan Halal Bihalal dapat meluluhkan dosa sesama manusia dan membersihkan diri dari segala dosa.

Ia menegaskan, meminta ampun merupakan ajaran Nabi Muhammad SAW. Dalam sebuah hadis, Rasulullah pernah berpesan, apabila seseorang berbuat zalim kepada saudaranya, entah karena menyakiti harga dirinya, atau karena kezaliman orang lain, hendaknya ia meminta halal kepada saudaranya sebelum hari yang menzalimi dinar dan dirham tidak ada. berlaku lagi.

“Jika dunia belum selesai, maka beban amal shalehnya – kezaliman yang dilakukan – akan diberikan kepada orang yang dizaliminya dan jika amal shalehnya berakhir, maka beban orang yang dizaliminya akan dibebani dengan dosa,” pungkas Kii Rozicki.

By admin

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *