Thu. May 23rd, 2024

Pemudik yang Alami Pembesaran Prostat Tidak Dianjurkan Minum Minuman Manis, Ini Alasannya

matthewgenovesesongstudies.com, Jakarta – Wisatawan perlu memperhatikan kesehatannya, termasuk jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi. Wisatawan dengan BPH disarankan untuk tidak meminum minuman manis dalam perjalanan pulang. Menurut ahli urologi, meminum minuman manis bisa berdampak buruk pada kondisi kandung kemih.

Samicha Yusuf, dokter spesialis urologi di Rumah Sakit Abdi Valueo Jakarta, mengatakan: “Hal pertama yang perlu diperhatikan oleh para pelancong dengan BPH saat bepergian adalah menghindari minuman yang dapat meningkatkan frekuensi buang air kecil.” kepada Laporan Anta La, Kamis.

Samycha mengatakan, waktu buang air kecil dalam perjalanan pulang sangat terbatas sehingga membuat banyak orang menahan diri. Oleh karena itu, orang yang menekan buang air besar berisiko lebih besar terkena infeksi.

Jika Anda menahan kencing dalam waktu lama, dapat merusak ginjal akibat pembengkakan.

Oleh karena itu, Samycha menyarankan pasien untuk menghindari minuman manis seperti teh dan kopi yang dapat meningkatkan frekuensi buang air kecil, terutama pada malam hari.

Belum lagi lebaran, minum teh meski puasa pasti akan meningkatkan frekuensi buang air kecil di malam hari, kata Samicha.

Selain itu, pasien dengan hipertrofi prostat sebaiknya, jika mungkin, menghindari penggunaan obat yang antagonis terhadap alpha-blocker. Misalnya, obat flu dijual bebas karena menolak pengobatan dan memperburuk gejala.

Dokter Urologi lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI). Adistra Imam Satjakoesoemah, Sp.U, FICS membenarkan, obat flu yang diminum pasien bertentangan dengan pengobatan yang diresepkan dokter untuk memperlancar aliran urin dari kandung kemih.

Di antara kasus yang diterimanya banyak pasien yang datang ke IGD dengan keluhan buang air kecil tidak teratur setelah minum obat flu dan obat lain.

“Jadi pengobatannya sebenarnya sangat sederhana, cukup hentikan pengobatan flu dan berikan alpha blocker, dan jika tidak berhasil, lakukan operasi. Jadi perlu diperhatikan, jangan minum obat flu,” jelas Adystra.

Rochani, Sp.B, Sp.U(K), Direktur Departemen Urologi RS Abdi Valuyo, berpesan agar pemerintah dan pengelola jalan tol lebih memperhatikan banyaknya rest area yang disediakan bagi pemudik yang melintasi jalan tol tersebut. rute.

Ia mengatakan, kedua belah pihak harus bisa memahami bahwa toilet setidaknya harus ada setiap 50 kilometer di jalan yang dilalui pemudik. Sebab biasanya seseorang membutuhkan waktu empat jam untuk buang air kecil.

“Pemerintah kita mengimbau mereka yang mudik lebaran agar lebih memperhatikan hal ini. Khususnya di toilet wanita, antrian hingga 100 orang dan buang air kecil di jalan sudah tidak menjadi masalah lagi. Jutaan orang bepergian. Ini sangat sulit dan toiletnya tidak mencukupi,” kata Rochani.

By admin

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *