Sun. Jun 16th, 2024

matthewgenovesesongstudies.com, Jakarta – Telegram, platform perpesanan populer, kembali menjadi sorotan karena banyaknya pencurian konten yang terjadi di platformnya.

Baik itu film, serial, musik, maupun e-book didonasikan dan dibagikan secara gratis, dan tentunya hal ini berdampak pada penciptanya dan berdampak pada industri kreatif di Indonesia.

Salah satu kasus pembajakan dan distribusi ilegal terbaru terjadi pada platform periklanan Video.com, di mana dua penjahat atau administrator yang membagikan konten tersebut ditangkap oleh polisi.

Dilaporkan bahwa pelaku menggunakan fitur anonimitas dan enkripsi pada aplikasi Telegram untuk menghindari pembatasan hukum dan mengambil keuntungan dari distribusi ilegal materi berhak cipta.

Efek nyata yang mengkhawatirkan

Pembajakan konten di Telegram bukanlah masalah kecil. Hasilnya nyata dan meresahkan. Akibat tindakan tersebut, para produsen kehilangan uang hasil jerih payah mereka.

Bayangkan jika karya yang dibuat dengan dedikasi tinggi mudah dibajak dan dinikmati secara gratis, siapa yang mau menginvestasikan waktu, tenaga, dan uang untuk melanjutkan karyanya?

Industri manufaktur Indonesia yang mulai menunjukkan pertumbuhan baik terancam dampak budaya pembajakan.

Upaya kontak lambat

Meski banyak pihak yang menyatakan keprihatinannya, upaya mengatasi penipuan di Telegram tampaknya masih berjalan lambat.

Platform OTT ini dinilai lemah dalam melacak laporan pelanggaran hak cipta dan memiliki sistem penegakan hukum yang lemah.

Oleh karena itu, para pembajak mendistribusikan kontennya secara bebas sehingga menimbulkan kerugian bagi pemilik, pengembang, dan konsumen yang ingin menikmatinya secara legal.

 

Baru-baru ini Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bekerja sama dengan Telegram untuk memblokir saluran-saluran penyiaran olahraga ilegal di Telegram.

Telegraf akan segera kami panggil, kata Sekretaris Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika, I Nyoman Adhiarna, dalam pertemuan Sportel di Jimbaran, Kabupaten Badung, Bali, dilansir Antara. Selasa (04/06/2024).

Dia menambahkan: “mereka telah banyak membantu, namun kita perlu bekerja lebih erat dengan Telegram untuk mencegah aktivitas yang tidak pantas dan ilegal.”

Ini merupakan langkah baik dalam memerangi pembajakan konten di platform.

Menurut Adhiarna, penghapusan ilegal tersebut tidak bisa langsung dilakukan oleh Kominfo sendiri.

“Setiap stasiun mempunyai kebijakan masing-masing dan harus bekerjasama dengan departemen/organisasi dan organisasi terkait,” ujarnya.

 

Berdasarkan data yang disampaikan Coalition Against Piracy (CAP) pada acara tersebut, pembajakan game di Indonesia akan mencapai 54 persen pada tahun 2023.

Jumlah ini naik dua persen dari tahun 2022 yang sebesar 52 persen. Jumlah ini tergolong rendah dibandingkan kawasan lain di kawasan Asia Pasifik seperti Malaysia, Filipina, dan Vietnam.

Malaysia dilaporkan sudah mencapai 60 persen. Sedangkan Filipina dan Vietnam sama-sama sebesar 58 persen.

57% di Hong Kong dan Taiwan dan 39% di Singapura.

Pembajakan konten olahraga melalui media sosial sangat umum terjadi, termasuk di Indonesia, yang angkanya mencapai 37 persen.

Platform media sosial yang paling umum digunakan untuk mendistribusikan konten bajakan, terutama game, adalah Telegram (63 persen), Facebook (54 persen), Instagram (42 persen), WhatsApp (60 persen), dan TikTok (39 persen).

 

Pembajakan konten di Telegram menjadi masalah besar tidak hanya di india, tapi juga di India.

Menurut sebuah artikel di Televisi India, Telegram telah menjadi platform terbesar untuk streaming film dan serial TV bajakan.

Hal ini menyebabkan kerugian besar bagi industri film dan televisi India.

Perjuangan melawan pembajakan konten di Telegram bukanlah tugas satu pihak, melainkan tugas bersama.

Dengan kerja sama dan kesadaran kolektif semua pihak, kita dapat membangun ekosistem digital yang selaras dengan industri kreatif dan menghargai karya anak bangsa.

By admin

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *