Sat. Jun 15th, 2024

37 Calon Emiten Antre Lepas Saham ke Publik hingga 31 Mei 2024

matthewgenovesesongstudies.com, Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan beberapa perusahaan telah mengantri dalam jalur penawaran umum perdana (IPO).

Per 31 Mei 2024, terdapat 24 perusahaan yang terdaftar di Bursa. Dana yang berhasil dihimpun dalam IPO sebesar Rp 3,88 triliun. Direktur Perusahaan Penilai BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, kini ada 37 perusahaan yang siap debut di Bursa.

Dari sisi aset, perusahaan menengah masih mendominasi. Sedangkan dari segi sektor, sebagian besar berasal dari sektor konsumen non-siklus.

Pada Senin (3/6/2024), Nyoman mengatakan kepada wartawan, “Sampai saat ini, terdapat 37 perusahaan yang terdaftar di saluran pencatatan saham BEI).

Merujuk POJK Nomor 53/POJK.04/2017, terdapat 8 perusahaan dengan aset skala besar melebihi Rp 250 miliar. Kemudian 24 perusahaan dengan aset skala menengah antara Rp 50 miliar hingga Rp 250 miliar. Sisanya 5 perusahaan memiliki aset kecil kurang dari Rp 50 miliar.

Sedangkan rincian sektornya adalah sebagai berikut:

• 2 Perusahaan dari sektor bahan baku

• 5 Perusahaan dari sektor konsumen siklis

• 9 Perusahaan dari sektor konsumen non-siklus

• 2 Perusahaan dari sektor energi

• 1 perusahaan di bidang keuangan

• 3 Perusahaan dari sektor kesehatan

• 6 Perusahaan dari sektor industri

• 1 Perusahaan dari bidang infrastruktur

• 3 Perusahaan dari sektor properti dan real estate

• 4 Perusahaan dari sektor teknologi

• 1 perusahaan dari sektor transportasi dan logistik

  Pipa Obligasi

Pada saat yang sama, Nyoman mencatat ada 40 pelepasan dari 32 emiten EBUS yang sedang dalam perencanaan obligasi. Saat ini, 28 penerbitan EBUS telah menerbitkan 41 penerbitan dan pendapatan meningkat menjadi Rp 42,8 triliun.

 

 

Selain itu, berikut klasifikasi sektor penerbitan obligasi:

• 3 Perusahaan dari sektor bahan baku

• 2 Perusahaan dari sektor konsumen siklis

• 2 Perusahaan dari sektor konsumen non-siklus

• 2 Perusahaan dari sektor energi

• 14 Perusahaan dari sektor keuangan

• 0 Perusahaan dari sektor kesehatan

• 1 Perusahaan dari sektor industri

• 6 Perusahaan dari sektor infrastruktur

• 1 perusahaan dari sektor properti dan real estate

• 1 Perusahaan dari bidang teknologi

• 0 Perusahaan dari sektor transportasi dan logistik

Masalah Hak Pipa

Untuk aksi penambahan modal dan hak di muka (HMETD) atau penerbitan hak, masih ada 24 emiten yang dalam perencanaan.

Hingga 31 Mei 2024, terdapat 10 emiten yang telah melakukan right issue dengan total nilai Rp 30,71 triliun. Selain itu, terdapat 24 perusahaan yang masuk dalam pipeline right issue BEI dengan rincian sektor sebagai berikut:

• 1 Perusahaan dari bidang bahan baku

• 8 Perusahaan dari sektor konsumen siklis

• 4 Perusahaan dari sektor konsumen non-siklus

• 4 Perusahaan dari sektor energi

• 5 Perusahaan dari sektor keuangan

• 0 Perusahaan dari sektor kesehatan

• 0 Perusahaan dari sektor industri

• 1 Perusahaan dari sektor infrastruktur

• 0 Perusahaan dari sektor properti dan real estate

• 0 Perusahaan dari sektor teknologi

• 1 perusahaan dari sektor transportasi dan logistik

Sebelumnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) membeberkan kabar terkini terkait regulasi market maker. Rencananya aturan tersebut akan digulirkan pada paruh pertama tahun 2024.

Direktur Perdagangan dan Kebijakan Anggota Bursa BEI, Irvan Susandy mengatakan, pihaknya saat ini sedang melakukan diskusi dengan tiga anggota bursa (AB).

Sayangnya, BEI belum bisa membeberkan rincian lebih lanjut. “Sekarang ada 3 AB yang sedang berdiskusi dengan kami sebagai pilot AB. Hanya saja kami belum bisa mengungkap siapa mereka,” kata Irvan kepada wartawan, dikutip Rabu (15/5/2024).

Pertukaran ini mengatur keseluruhan persyaratan penyedia likuiditas dalam bentuk SOP, manajemen risiko, dan persyaratan sistem. Bagi Anggota Bursa yang berminat menjadi penyedia likuiditas dapat mengajukan permohonan ke Bursa setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan Bursa.

Irvan mengatakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) saat ini sedang dalam proses menyiapkan regulasi mengenai penyedia likuiditas. Terkait jadwal, Bursa masih menunggu perkembangan pengaturan dari OJK namun diharapkan bisa selesai pada tahun ini.

“Kami berharap penyedia likuiditas dapat meningkatkan likuiditas transaksi dan mengurangi spread pada saham-saham yang masuk dalam daftar saham yang dapat disebutkan oleh penyedia likuiditas,” tambah Irvan. Memperkenalkan Pembuat Pasar

Sebelumnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) akan memperkenalkan market maker untuk meningkatkan nilai transaksi saham pada tahun 2024. 

Irvan Susandy, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI mengatakan, pihaknya berencana menunjuk perusahaan sekuritas untuk menjadi pasar. 

“Sekuritas tertentu menurut kami akan memberikan likuiditas ke pasar. Jadi mereka harus melakukan kuotasi beli dan jual sesuai yang sudah kita atur,” kata Irvan saat ditemui di BEI, ditulis Rabu 3 Januari 2024.

 

 

Selain itu, para pembuat pasar ini akan memiliki kewajiban yang harus dipenuhi. Misalnya berapa lembar per hari harus ada dan ada parameternya. 

“Ada kewajiban yang harus dipenuhi, berapa lembar kertas yang harus dibuat per hari,” ujarnya. 

Oleh karena itu, sanksi akan diberikan kepada pelaku pasar yang tidak mematuhi kewajibannya. Sanksi yang diberikan kepada pelaku pasar berupa sanksi administratif. 

Namun pada tahap awal, BEI belum melakukan pembatasan terhadap pelaku pasar. Sebab, BEI akan memberikan layanan konsultasi terlebih dahulu. 

“Jika tidak memenuhi kewajiban, langkah pertama yang dilakukan adalah konseling,” ujarnya. 

Market maker adalah pihak yang diberi wewenang oleh bursa untuk secara rutin menerbitkan penawaran dan menawarkan kuotasi kategori saham tertentu dalam jumlah yang cukup. 

By admin

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *