Tue. Jun 25th, 2024

Angka Perceraian di Kabupaten Mukomuko Didominasi Pasangan Pernikahan Dini

matthewgenovesesongstudies.com, Jakarta Angka perkawinan anak sangat tinggi di Kabupaten Mukomuko, Bengaluru. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, angka perceraian di kabupaten ini juga sama pada pasangan pranikah.  

Data tersebut berdasarkan hasil peninjauan Kantor Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Mukomuko. Dan disampaikan langsung oleh Mukomuko Bupati Sapuan. Tepatnya M. Iqbal Apriansyah, perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Bengkulu, 2024, saat disambangi Direktur Eksekutif (Plt) di ruang kerjanya di rumah dinas Bupati Mukomuko pada Senin, 26 Februari.

Permasalahan dalam program pembangunan kependudukan di wilayah ini adalah angka perceraian pasangan yang memiliki anak.

Untuk mengatasi hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Mukomuko segera menjalin kesepakatan dengan Mahkamah Agung Agama (PTA) dan Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Mukomuko untuk menurunkan angka perkawinan anak dan perceraian.

“Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk mengurangi kasus skandal perkawinan anak,” kata Sapuan dalam siaran persnya, Kamis (29 Februari 2024).

Sapuan menambahkan, dalam membangun populasi dan mengurangi stunting, diperlukan langkah-langkah edukasi untuk mendorong perilaku sehat di masyarakat. Sebab perubahan perilaku merupakan kunci suksesnya program peningkatan kualitas penduduk.

Sapuan berpendapat bahwa pendidikan dan penanganan pihak berwenang harus menggunakan bahasa informal. Ia berpendapat, bahasa informal lebih efektif dalam mensosialisasikan berbagai program ke masyarakat.

Termasuk program nasional percepatan pembangunan keluarga, kependudukan, keluarga berencana (Bungga Kenkana) dan penurunan stunting.

“Mendidik dengan bahasa informal agar berbagai lapisan masyarakat mudah memahami dan memahaminya,” kata Sapuan.

Namun beliau mengingatkan kita untuk tidak meninggalkan bahasa resmi, melainkan memperkuatnya dengan bahasa informal. Baik yang dijalankan oleh pemerintah, PKK maupun Penyuluh Keluarga Berencana (PLKB/PKB)

Sapuan berpendapat bahwa penggunaan bahasa informal, seperti bahasa daerah atau daerah, dapat menyampaikan pesan pendidikan dengan lebih baik.

Penggunaan bahasa daerah tidak membuat program seperti keluarga berencana gagal. Program KB juga berhasil karena generasi muda kurang berminat untuk memiliki banyak anak.

“Generasi muda saat ini tidak tertarik untuk mempunyai anak dalam jumlah banyak. “Bagaimana sebuah keluarga bisa sehat dan berkualitas untuk memenuhi pembangunan masa depan,” jelas Sapuan.

Untuk mencegah pernikahan dini dan kehamilan tidak direncanakan, masyarakat perlu diberikan edukasi mengenai dampak negatifnya, lanjut Sapuan.

“Beri tahu masyarakat apa dampak negatifnya jika jarak antara kehamilan dan kelahiran tidak direncanakan dan dikendalikan.”

“KB lebih bermanfaat tidak hanya dari segi ekonomi, tetapi juga dari segi kesehatan masyarakat. Jumlah anak boleh lebih dari dua, tapi harus terencana, sehat dan berkualitas,” tutupnya. .

By admin

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *