Sun. Jun 16th, 2024

Erick Thohir Minta BUMN Waspada Hadapi Dampak Kebijakan The Fed hingga Konflik Iran-Israel

matthewgenovesesongstudies.com, Jakarta – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Eric Tohir mewanti-wanti BUMN agar tidak meramalkan dampak gejolak ekonomi dan geopolitik di dunia.

Eric mencontohkan, inflasi AS sebesar 3,5 persen berarti bank sentral (Federal Reserve) atau bank sentral AS memperkirakan penurunan suku bunga acuan (Fed Fund Rate) tidak akan terjadi dalam waktu dekat.

Situasi geopolitik juga semakin bergejolak dengan memanasnya konflik antara Israel dan Iran beberapa hari lalu, kata Eric di Jakarta, Rabu, 17 April 2024, demikian keterangan resmi.

Situasi ini menyebabkan penguatan dolar AS terhadap rupee dan tentu saja kenaikan harga minyak WTI dan Brent yang masing-masing mencapai $85,7 dan $90,5 per barel, kata Eric.

Dia menambahkan, “Beberapa ekonom memperkirakan harga minyak akan mencapai $100 per barel jika konflik meluas ke Amerika Serikat.”

Keduanya melemahkan rupee hingga Rp 16.000-16.300 per dolar AS dalam beberapa hari terakhir, kata Eric Thohir. Rupee mungkin bisa menembus level 16.500 jika ketegangan geopolitik tidak mereda.

Eric menilai situasi ekonomi dan geopolitik telah dan akan berdampak pada Indonesia melalui keluarnya dana investasi asing yang akan berdampak pada pelemahan rupiah dan imbal hasil obligasi yang lebih tinggi. Biaya impor bahan mentah dan makanan juga semakin mahal karena terganggunya rantai pasokan.

“Ini akan menggerus neraca perdagangan Indonesia,” tambah Eric.

Oleh karena itu, Eric meminta BUMN mengambil tindakan cepat untuk mengurangi dampak global dengan meninjau biaya operasional investasi, jatuh tempo utang dan rencana bisnis perusahaan, serta melakukan stress test untuk melihat bagaimana posisi BUMN dalam situasi saat ini.

Eric meminta bank-bank milik pemerintah menjaga secara proporsional porsi kredit yang terdampak fluktuasi rupee, suku bunga, dan harga minyak.

BUMN yang terkena dampak impor bahan baku dan BUMN yang porsi ULNnya cukup besar (dalam USD) antara lain Pertamina, PLN, BUMN farmasi dan MIND ID untuk memaksimalkan belanja dalam USD, kata Eric.

“Selain melakukan kajian sensitivitas terhadap pembayaran pokok dan/atau bunga atas utang dalam mata uang dolar yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat,” lanjut Eric.

Apalagi, kata Eric, BUMN yang berorientasi ekspor seperti pertambangan MIND ID dan peternakan PTPN bisa memanfaatkan tren kenaikan harga ini untuk mengurangi tergerusnya neraca perdagangan. Eric mengatakan, perusahaan yang memiliki utang luar negeri atau berencana menerbitkan instrumen dolar AS sebaiknya mengkaji opsi lindung nilai untuk mengurangi dampak fluktuasi nilai tukar.

“Seluruh BUMN diharapkan waspada dan waspada dengan memantau situasi saat ini, dengan mempertimbangkan kemungkinan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat,” kata Eric.

Pertamina terus mencermati perkembangan terkini dan dampak geopolitik yang memanas terhadap rantai pasokan energi global, kata Nikki Widyawati, CEO PT Pertamina. Nikkei menyebutkan fluktuasi harga minyak global akan semakin dinamis seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

“Kami akan terus meningkatkan upaya mitigasi risiko untuk mengurangi potensi dampak dinamika kondisi ekonomi dan geografis, termasuk pengendalian biaya, pemilihan campuran minyak mentah yang optimal, manajemen inventaris yang efektif, dan peningkatan produksi produk berkinerja tinggi dan efisien di seluruh sektor. lini bisnisnya,” kata Nick.

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Sunarso menegaskan BRI akan menerapkan langkah tegas dalam rencana bisnis perseroan ke depan. BRI juga akan menjaga komponen kredit yang terkena dampak fluktuasi rupee, suku bunga, dan harga minyak secara proporsional, lanjut Sonarso.

“Tentunya sesuai instruksi Menteri, kami akan melakukan stress test dan juga menyiapkan berbagai skenario kemungkinan-kemungkinan yang mungkin timbul dalam perekonomian negara akibat dinamika kondisi perekonomian dan geopolitik internasional,” kata Sonarso.

Pertamina sebagai pemimpin di sektor transisi energi berkomitmen mendukung target net zero emisi tahun 2060 dengan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Seluruh upaya tersebut selaras dengan penerapan praktik Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (ESG) di seluruh wilayah bisnis dan aktivitas Pertamina.

 

 

By admin

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *