Fri. Jun 14th, 2024

Gerakan SOS untuk Selamatkan Generasi Muda dari Bahaya Rokok, Ini Artinya

Organisasi komunitas matthewgenovesesongstudies.com, Indonesia dan World Jakarta menilai industri rokok menyasar anak-anak dengan memasarkan produk tembakau dengan berbagai rasa dan bentuk yang menarik. Hal ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan aktivis hak-hak anak dan kelompok anti-rokok, yang berujung pada gerakan Save Our Neighborhood (SOS).

Gerakan yang lahir pada Hari Tanpa Tembakau Sedunia pada 31 Mei 2024 ini terinspirasi dari bahasa kode yang menimbulkan kekhawatiran. Sehubungan dengan SOS ini, terdapat kekhawatiran akan meningkatnya prevalensi remaja yang kecanduan rokok. Serta risiko bagi perokok pasif, risiko dampak negatif rokok terhadap kesehatan, perekonomian, dan lingkungan.

Menurut Manik Marganamhendra, Ketua Umum Dewan Pemuda Indonesia untuk Perubahan Taktis (IYCTC), sebagai gerakan yang digagas pemuda, SOS dimaksudkan untuk mengingatkan masyarakat agar saling menjaga satu sama lain.

SOS juga menyerukan kepada pemerintah untuk menghentikan campur tangan (pengaruh) industri rokok di semua sektor, periklanan, promosi dan sponsorship terhadap anak-anak.

Hal ini dibuktikan dengan usulan Peraturan Pemerintah tentang Kesehatan (RPP) yang sampai saat ini belum disahkan. Padahal, sudah berkali-kali kita coba namun belum juga diterima dan harapan masyarakat belum juga disahkan. ,” kata Manik, Senin, merujuk pada keterangan resmi yang diperoleh Health matthewgenovesesongstudies.com pada 3 Juni 2024.

Gerakan Selamatkan Lingkungan Kita yang mengusung slogan “Selamatkan Sekarang Nanti” menyoroti adanya persoalan antargenerasi. Artinya konsumsi rokok tidak hanya menimbulkan penyakit bagi masyarakat saat ini, namun juga generasi mendatang sebagai sumber daya manusia Indonesia.

Manajer Program IYCTC Nye Med Shelasih lebih lanjut menambahkan bahwa kebijakan yang ada belum efektif karena iklan, promosi, dan sponsorship rokok masih sangat luas dan tidak diatur. Selain itu, belum semua daerah menerapkan zona bebas rokok.

Oleh karena itu, gerakan Selamatkan Lingkungan Kita ingin mendorong masyarakat untuk menyalakan tanda peringatan dan menyadari bahwa rokok itu berbahaya. Bukan hanya untuk diri Anda sendiri, tapi juga orang-orang di sekitar Anda.

Manajer program Komite Nasional Pengendalian Tembakau Nina Samidi mengatakan, selama 10 tahun terakhir, masyarakat belum mendapatkan perlindungan pemerintah dari campur tangan industri rokok.

Jaringan Pengendalian Tembakau telah mendesak pemerintah untuk segera merevisi PP 109 mulai 2017, 2018, namun sejauh ini belum masuk akal bagi pemerintah. Terakhir, ada RPP kesehatan turunan UU Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, namun belum ditandatangani pemerintah.

“Kami menyerukan kepada pemerintah untuk menjawab pertanyaan, di mana posisi pemerintah saat ini? Kami mempertanyakan komitmen pemerintah dalam melindungi kesehatan masyarakat karena terlalu banyak campur tangan pemerintah dalam industri rokok. sekarang sedang sekarat. Industri rokok,” kata Nina.

Sementara itu, Belladenta Amalia, Kepala Proyek Pengendalian Tembakau, Center for Strategic Development Initiatives Indonesia (CISDI), menambahkan, krisis SOS menunjukkan jumlah perokok di kalangan anak-anak saat ini sangat tinggi.

Tak hanya orang dewasa, anak-anak Indonesia pun mulai mencoba merokok sejak usia dini. Melalui gerakan SOS ini, CISDI berperan berdasarkan hasil penelitian yang menunjukkan banyak anak-anak yang menggunakan rokok karena harganya yang masih sangat murah. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk mengendalikan harga rokok secara signifikan masih belum terlihat.

Oleh karena itu kami sangat mendukung upaya pemerintah dalam pengendalian tembakau melalui pengesahan RPP Kesehatan agar anak-anak kita, serta masyarakat rentan lainnya, terutama masyarakat miskin, segera terlindungi, ujarnya.

“Kami juga mendukung kelanjutan kenaikan cukai produk tembakau secara substansial sehingga masyarakat yang rentan, termasuk anak-anak, tidak lagi mampu membelinya,” kata Belladenta.

Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS UI) yang diwakili oleh Kusuma Hartono yang berbahaya membahas masalah merokok juga terkait dengan jongkok.

Menurutnya, gerakan SOS merupakan salah satu pengingat akan permasalahan stunting yang belum terselesaikan di Indonesia. Saat ini Indonesia gagal menurunkan target prevalensi stunting sebesar 14 persen.

Namun baru 20 persen yang terealisasi. Jika kebiasaan merokok tidak dikendalikan maka akan sulit menurunkan angka stunting di masa depan.

“Kajian PKJS UI menemukan kenaikan harga rokok sebesar 1 persen meningkatkan kemiskinan sebesar 6 persen. Jadi jika keluarga miskin terus mengeluarkan uang untuk membeli rokok, maka akan menjebak mereka dalam kemiskinan,” ujarnya.

“Untuk itu pada Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) ini kami sangat mengimbau pemerintah untuk memberikan perhatian lebih terhadap peningkatan pengendalian tembakau di Indonesia,” tambah Risky.

By admin

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *