Sun. Jun 16th, 2024

Kanada Janjikan 5.000 Visa untuk Penduduk Gaza yang Jadi Korban Perang

matthewgenovesesongstudies.com, Ottawa – Kanada menyatakan negaranya akan memberikan visa sementara kepada 5.000 orang Gaza melalui program khusus.

Dikutip dari laman Jepang, Jumat (30/5/2024), hari ini visa tersebut merupakan yang pertama bagi mereka yang tinggal di zona perang di Gaza.

Jumlah tersebut meningkat dari 1.000 visa sebelumnya, kata departemen perikanan Kanada dalam sebuah pernyataan.

Menteri Imigrasi Kanada Mark Miller mengatakan, “Meskipun saat ini tidak mungkin untuk keluar dari Gaza, situasinya dapat berubah sewaktu-waktu. Dengan peningkatan batas ini, kami akan siap membantu lebih banyak orang dalam menghadapi perkembangan situasi.”

Tentu saja sangat sulit bagi masyarakat untuk meninggalkan Gaza dan itu tergantung izin Israel.

Dalam salah satu serangan terbaru, sebuah pesawat Israel melepaskan tembakan yang menewaskan 45 orang di sebuah kamp di Rafah di Kota Gaza. Hal ini memicu protes dari para pemimpin dunia.

Kanada telah membagikan nama-nama penduduk Gaza yang telah lulus pemeriksaan awal untuk mengonfirmasi keluarnya mereka kepada pihak berwenang setempat.

Juru bicara departemen perikanan Kanada mengatakan 448 warga Gaza diberikan visa sementara, termasuk 254 orang berdasarkan kebijakan pemerintah, dan 41 orang tiba di Kanada.

Setidaknya beberapa orang tewas dalam serangan udara Israel di kota Rafah di Gaza selatan pada Minggu (26/5/2024), kata pejabat kesehatan Palestina. Serangan tersebut menyebabkan ruang kendali tetap utuh, sementara banyak ruang lainnya terbakar.

Otoritas Kesehatan Jalur Gaza mengatakan sebagian besar korban tewas adalah perempuan dan anak-anak, dan ratusan lainnya terluka.

Serangan hari Minggu ini terjadi dua hari setelah Mahkamah Internasional (ICC) memerintahkan Israel untuk mengakhiri operasi militernya di Rafah, tempat lebih dari separuh dari 2,3 juta penduduk Gaza mengungsi sebelum Israel menyerang kota itu awal bulan ini. Ribuan orang tinggal di daerah tersebut, meski banyak yang mengungsi.

Foto-foto dari lokasi penyerangan menunjukkan kerusakan yang luas. Militer Israel membenarkan serangan tersebut dan mengatakan serangan tersebut menghantam bangunan Hamas dan menewaskan dua militan Hamas. Mereka mengatakan mereka sedang menyelidiki laporan bahwa warga sipil telah dirugikan.

“Menteri Pertahanan (Israel) Yoav Galant berada di Rafah pada hari Minggu dan diberitahu tentang kedalaman operasi di sana,” kata Kementerian Pertahanan Israel dalam sebuah pernyataan, dilansir kantor berita AP pada Senin (27/5).

Juru bicara Bulan Sabit Merah Palestina mengatakan jumlah korban tewas bisa bertambah seiring operasi pencarian dan penyelamatan berlanjut di lingkungan Tel al-Sultan di Rafah. Sumber yang sama menegaskan bahwa daerah tersebut ditetapkan oleh Israel sebagai “daerah kemanusiaan”, dan tidak termasuk daerah yang diperintahkan untuk “dievakuasi” awal bulan ini.

Pesawat-pesawat itu tiba beberapa jam setelah Hamas meluncurkan rentetan roket dari Jalur Gaza, sehingga memungkinkan serangan udara mencapai Tel Aviv untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan.

Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam serangan terlama di Jalur Gaza sejak Januari lalu. Sayap militer Hamas mengaku bertanggung jawab.

Militer Israel mengatakan delapan rudal telah menghantam Israel setelah ditembakkan dari Rafah dan sejumlah rudal telah dicegat dan pemancarnya dihancurkan.

Sebelumnya pada hari Minggu, tentara Israel mengatakan bahwa 126 kendaraan bantuan memasuki jalur Kerem Shalom.

Namun, tidak jelas apakah organisasi kemanusiaan akan dapat mengakses bantuan tersebut – termasuk pasokan medis – mengingat konflik yang terjadi. Tidak mungkin melewati jalur tersebut karena serangan Israel di Rafah. Badan-badan PBB mengatakan penarikan bantuan adalah masalah serius. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pekan lalu memperingatkan bahwa serangan udara Israel di Rafah akan meningkat.

“Dengan operasi bantuan kemanusiaan di ambang kegagalan, Sekretaris Jenderal PBB (Antonio Guterres) mengatakan bahwa pemerintah Israel harus memfasilitasi pengiriman dan pengiriman pasokan kemanusiaan yang masuk ke Kerem Shalom dari Mesir,” demikian pernyataan Guterres.

Mesir telah menolak untuk membuka kembali perbatasan Rafah sampai kendali atas Jalur Gaza dikembalikan ke Palestina. Mereka sepakat untuk mengalihkan lalu lintas melalui Kerem Shalom, pusat kargo utama Jalur Gaza, setelah percakapan telepon antara Presiden Joe Biden dan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi.

Israel mengambil alih perbatasan Rafah di sisi Gaza awal bulan ini.

By admin

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *