Fri. Jun 14th, 2024

Pekerja Kebersihan Unpad Tuntut Upah Layak dan Kejelasan Status Hubungan Kerja

matthewgenovesesongstudies.com, Bandung – “Kami adalah ibu yang berjuang untuk keluarga, bukan untuk bersenang-senang atau bermain sendiri.”

Kata-kata itu diucapkan Ennis Lenis, 46 tahun, saat menerima pengukuhan ratusan buruh yang merayakan Hari Buruh Internasional (atau 1 Mei) di Taman Cikapayan Kota Bandung.

Enis bekerja sebagai petugas kebersihan di Universitas Pajadjaran (Ampad) Jatinangol. Bertanggung jawab membersihkan jalan dan area di luar kampus. Saat ini ia menjabat pengurus Serikat Konsolidasi Pekerja Pajadjaran (Koperja) yang didirikan pada tahun 2015 oleh para petugas kebersihan di Ampad.

Pada 1 Mei 2024, Ennis ikut aksi bersama ratusan buruh yang sepakat menamakan gerakannya Aliansi Buruh Bandung Raya. Diperkirakan sekitar 200 orang dari berbagai latar belakang, antara lain pemilik toko, pekerja pabrik, pekerja media dan industri kreatif, pelajar, bahkan warga kelurahan, mendapat ancaman atau penggusuran.

Ennis meminta universitas untuk memberikan upah yang adil dan menjamin status hubungan kerja. Bagi mereka, kedua hak mendasar karyawan tersebut masih terasa belum jelas.

Ennis telah bekerja sejak tahun 2015 dan menerima gaji bulanan sebesar Rp 400.000 dengan jam kerja pukul 07.00 hingga 15.00 WIB. Saat ini, jam kerja telah diperpendek dan upah ditingkatkan, dengan gaji bulanan sekitar 800.000 rupiah untuk empat jam sehari. Ennis mengatakan, pihak universitas mengaku gagal membayar gaji sesuai Peraturan Pengupahan (UMK).

‘Tahukah Anda, sekarang kami sebenarnya bekerja empat jam, namun sebagai imbalannya kami harus bekerja berkali-kali lipat. Anda tahu Unpad itu besar kan?’

Sebagian besar pegawainya adalah perempuan dari berbagai kampus, kata Ennis. Ennis dan banyak pekerja sanitasi lainnya mengakui bahwa mereka tidak mengetahui secara jelas status hubungan kerja mereka.

“Status pekerjaan kami tidak jelas, kami tidak tahu apakah itu outsourcing atau apa, karena Ampad bilang ini memberdayakan warga,” kata Ennis. “Status kami belum jelas, tapi kami memperjuangkan status ketenagakerjaan yang jelas,” tambahnya.

Ennis menyadari bahwa jalan perjuangan adalah melalui kolaborasi dan jaringan dengan serikat pekerja lain. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan memicu gerakan buruh.

“Kesulitannya bagi para pekerja kampus yang ingin membentuk serikat pekerja adalah sulitnya mengesahkan SK (UU) itu sendiri. Semua pekerja mempunyai hak untuk membentuk serikat pekerja. Kami akan mendapatkan hak itu. Pada tahun 2016, kami menghadapi banyak tekanan dari pihak universitas. Mungkin ini bukan hal yang aneh bagi kami sebagai masyarakat kecil, namun pada awalnya banyak dari kami yang pindah. Namun di bawah tekanan, banyak yang akhirnya menyerah,” kata Ennis.

Tindakannya sebelumnya, seperti memberikan suara pada Hari Buruh Internasional, bukannya tanpa risiko. Enis merasa dirinya mungkin mendapat tekanan atau dipecat dari pekerjaannya.

Tapi “Saya kira kita sudah menahan sakitnya. Perjuangan tidak ada batasnya. Asal ada kemauan ya, kita harus terus berjuang. Kalau bukan kita yang mengubahnya, siapa lagi?” pekerja akan menjadi lebih baik di masa depan dan mendapatkan apa yang layak mereka dapatkan,” katanya.

Di tempat yang sama, Ketua Umum Federasi Serikat Buruh Militan (F-SEBUMI) Aan Amina angkat bicara soal pemutusan hubungan kerja (PHK) dan kriminalisasi yang kerap dilakukan perusahaan tanpa memperhatikan proses hukum. . Diberi tahu.

Katanya, pegawai yang bersuara sering kali tenggelam. Seperti Aan Amina saat itu, ia terhambat kriminalisasi, dituduh menyerang keamanan, merusak perusahaan, dan menghasut gerakan buruh di dalam pabrik.

Saat itu, Aan Amina dan kawan-kawan memprotes pemecatan tersebut dan menuntut pembayaran THR dan upah tahun 2020. Para pekerja perempuan tersebut akhirnya dipenjara.

“Kita harus terus melawan kriminalisasi aktivis buruh, karena apa kejahatan buruh? Mereka hanya menuntut hak yang tidak diberikan oleh perusahaan mereka. Saya akan terus memperjuangkan ini. Saya tidak akan pernah mundur dari perjuangan ini lagi.’” Tidak peduli siapa anggota saya, atau pekerja mana pun yang pernah mengalami hal seperti ini, “Saya akan terus maju untuk melindungi mereka,” kata Amina.

May Day 2024 di Bandung melaporkan isu-isu seperti upah rendah, hubungan perburuhan, masalah keselamatan dan kesehatan kerja, kriminalisasi aktivis buruh, represi terhadap serikat pekerja, diskriminasi dan pelecehan terhadap pekerja perempuan, dan kebijakan pemerintah. Bukan berpihak pada buruh.

Dalam rangka Hari Buruh Internasional, Aliansi Buruh Bandung Raya menegaskan bahwa kelas pekerja harus terus membangun solidaritas dan bertukar kabar mengenai tantangan yang mereka hadapi. Peringatan tanggal 1 Mei merupakan langkah kolektif untuk menyatukan perjuangan kaum buruh, umumnya masyarakat miskin perkotaan.

Pernyataan sikap Aliansi Buruh Bandung Raya menyatakan bahwa sekaranglah saatnya untuk memberikan pelajaran kepada pegawai negeri dan pengusaha yang mengabaikan kesejahteraan dan keselamatan kelas pekerja.

By admin

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *