Mon. May 27th, 2024

AS Bakal Kasih Dana Subsidi Rp 157 Triliun ke Intel, Untuk Apa?

matthewgenovesesongstudies.com, Jakarta – Pemerintah Amerika Serikat (AS) akan menangguhkan pemberian dukungan finansial lebih dari US$10 miliar atau sekitar Rp 157 triliun kepada Intel Corp. membahas.

Menurut laporan Bloomberg News, seperti dilansir Reuters, Selasa (20/2/2024), diskusi sedang berlangsung mengenai apakah paket subsidi Intel dapat mencakup pinjaman langsung dan subsidi.

Terkait hal ini, Departemen Perdagangan AS, pihak yang bertanggung jawab atas pencabutan UU CHIPS, dan Intel menolak berkomentar.

FYI, CHIPS Act adalah undang-undang yang dirancang untuk meningkatkan daya saing, inovasi, dan keamanan nasional Amerika.

Badan tersebut mengumumkan dua rancangan undang-undang CHIPS Act dan Menteri Perdagangan AS Gina Raimondo mengatakan dia berencana untuk mengeluarkan lebih banyak uang dalam waktu dua bulan menyusul rencana pemerintah senilai $39 miliar untuk meningkatkan produksi semikonduktor.

Dana semikonduktor dimaksudkan untuk mensubsidi produksi chip dan dikaitkan dengan pembiayaan rantai investasi, dengan keuntungan membantu membangun pabrik dan meningkatkan produksi.

Intel berencana menghabiskan puluhan miliar dolar untuk mendukung pabrik chip di lokasi lamanya di Arizona dan New Mexico, serta pabrik baru di Ohio yang menurut perusahaan Silicon Valley bisa menjadi pabrik terbesar di dunia.

Namun, Wall Street Journal melaporkan awal bulan ini bahwa Intel berencana menunda penyelesaian pabrik di Ohio hingga tahun 2026 karena perlambatan pasar chip dan terbatasnya pasokan dolar federal.

Belum jelas apakah kenaikan dolar federal tahun ini akan mempercepat rencana tersebut lagi, atau apakah rencana dengan Taiwan Semiconductor Manufacturing Co, yang pabrik chipnya sedang dibangun di Arizona, juga telah ditunda.

Micron dan Samsung Electronics dikatakan sedang membangun pabrik baru di AS dan telah mengambil proyek ini.

Sebelumnya, pemerintah Israel setuju untuk memberikan $3,2 miliar (sekitar Rp49 triliun) kepada Intel untuk pembangunan pabrik baru senilai $25 miliar (sekitar Rp386 triliun) di Israel selatan.

Jumlah itu setara dengan 12,8 persen dari total nilai pabrik chip yang akan dibangun. Pabrik baru tersebut diberi nama Fab 38 dan diperkirakan akan dibuka pada tahun 2028 dan beroperasi hingga tahun 2035.

Hibah senilai $3,2 miliar dari pemerintah Israel ini akan membantu Intel memperluas kemampuan manufaktur chipnya ke tingkat yang lebih besar. Demikian dilansir dari Gizchina pada Jumat (29/12/2023).

Investasi ini dilakukan ketika pasar semikonduktor global sedang mengalami pertumbuhan signifikan. Pasalnya, permintaan akan teknologi semikonduktor canggih juga semakin meningkat.

Dengan berinvestasi di lokasi baru di Israel, Intel ingin mendapatkan keuntungan dari pertumbuhan tersebut. Selain itu, Intel juga berusaha mempertahankan posisinya sebagai produsen semikonduktor terbesar di dunia.

Intel sendiri memiliki sejarah panjang dengan Israel. Perusahaan chip asal Amerika Serikat ini telah hadir di Israel sejak tahun 1974.

Perusahaan sekarang mengoperasikan empat pabrik dan fasilitas pengembangan di Israel. Termasuk pembangunan pabrik di Kiryat Gat, Israel yang diberi nama Fab 28.

Fab 28 merupakan pabrik yang memproduksi teknologi Intel 7 dan chipset 10 nanometer. Pabrik ini mempekerjakan sekitar 12.000 orang di Israel. Intel secara tidak langsung akan mempekerjakan 42.000 orang tambahan di Israel melalui kehadiran pabrik dan fasilitas barunya.

Sebelumnya, pada Juni lalu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan bahwa Intel akan membangun pabrik chip senilai $25 miliar di negara tersebut.

Lantas, apa keuntungan Israel mensubsidi Intel untuk membangun pabrik di wilayahnya?

Masih dari sumber yang sama, pabrik chip Intel di Israel diperkirakan akan membayar pajak perusahaan Israel sebesar 7,5 persen, dibandingkan tarif standar sebesar 23 persen. Hal ini sejalan dengan kebijakan Israel untuk mendorong investasi di wilayah berkembangnya.

Tarif pajak yang rendah ini dimaksudkan untuk menarik lebih banyak perusahaan untuk berinvestasi di Israel dan menciptakan lapangan kerja bagi warganya.

Selain itu, komitmen Intel dalam berinvestasi di Israel menunjukkan kemampuan Israel mendatangkan uang asing di tengah serangan di Gaza.

By admin

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *