Thu. May 23rd, 2024

Ekspor Indonesia ke China Anjlok, Ini Gara-garanya

matthewgenovesesongstudies.com, Jakarta Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja ekspor Indonesia dengan salah satu mitra dagang terpenting yakni China. Tercatat, ekspor Indonesia ke China kecuali migas turun sekitar 16,24 persen.

Plt Direktur BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan nilai ekspor Indonesia ke China pada Januari hingga Maret 2024 mencapai US$13,36 miliar. Angka ini lebih kecil dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 15,94 miliar dolar.

“Melihat data yang kami kumpulkan dan olah secara kumulatif Januari-Maret 2024 atau triwulan I, nilai ekspor Indonesia ke Tiongkok di luar migas turun 16,24 persen dibandingkan Januari-Maret 2023,” kata Amalia dalam konferensi pers. konferensi di kantor BPS, Jakarta, dikutip Selasa (23/04/2024).

“Jika triwulan I tahun 2024 dibandingkan dengan triwulan IV tahun 2023, maka nilai ekspor Indonesia ke Tiongkok di luar migas akan turun sekitar 21,20 persen,” lanjutnya.

Dia menjelaskan, ada beberapa komoditas yang berkontribusi terhadap anjloknya ekspor. Padahal, bahan bakar mineral sebagian besar adalah batu bara (HS27), minyak nabati dan lemak hewani sebagian besar adalah minyak sawit mentah (CPO) (HS15) dan baja (HS 27).

Dari segi nilai, sebaran ekspor Indonesia ke Tiongkok mencapai USD 4,75 miliar pada Maret 2024. Angka tersebut meningkat dibandingkan kinerja Februari 2024 sebesar USD 4,06 miliar. Namun, masih lebih rendah dibandingkan Maret 2023 yang sebesar $5,67 miliar.

Amalia mengatakan Tiongkok tetap menjadi salah satu mitra dagang terbesar Indonesia. Pangsanya terhadap total ekspor sebesar 22,44 persen. Disusul ekspor Asia Tenggara sebesar 17,89 persen, Amerika Serikat 10,36 persen, dan India dengan pangsa 8,42 persen.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja perdagangan Indonesia dengan Iran dan Israel relatif kecil. Keduanya bukan mitra dagang utama Indonesia.

Konflik antara Iran dan Israel diketahui sedang memanas di kawasan Timur Tengah. Kondisi ini dikhawatirkan akan mempengaruhi kinerja perdagangan negara mitra.

Melihat kinerja perdagangan Indonesia dengan Iran dan Israel pada tahun 2023, Plt Direktur BPS Amalia Adininggar Widyasanti menegaskan, rasio tersebut cukup kecil dibandingkan total ekspor dan impor.

“Yang ingin saya tekankan di sini, secara umum dapat disimpulkan bahwa nilai perdagangan Indonesia dengan Iran dan Israel relatif kecil. Keduanya bukan merupakan mitra dagang utama Indonesia di kawasan Timur Tengah,” tegasnya. Amalia saat jumpa pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (22 April 2024).

Dirinci juga kinerja ekspor Indonesia dengan Iran selama tahun 2023. Nilai ekspor Indonesia ke Iran tercatat sebesar USD 195,13 juta atau sekitar 2,51 persen dari total ekspor Indonesia ke Timur Tengah.

Sedangkan nilai impor Indonesia dari Iran mencapai 11,72 juta dollar AS atau sekitar 0,12 persen dari total impor dari Timur Tengah. Dengan demikian, Indonesia mencapai surplus perdagangan dengan Iran sekitar 183,41 juta USD.

“Tiga komoditas utama yang diekspor Indonesia ke Iran antara lain buah-buahan, kendaraan dan bagiannya, serta produk kimia. Sedangkan komoditas utama yang kita impor dari Iran adalah buah-buahan, bahan bakar mineral, dan bahan kimia organik,” jelasnya.

Sedangkan nilai ekspor Indonesia ke Israel mencapai US$165,77 juta atau hanya 1,83 persen dari total ekspor ke Timur Tengah. Sedangkan nilai impornya hanya sebesar US$21,93 juta atau hanya 0,22 persen dari total impor Indonesia dari Timur Tengah.

Begitulah Indonesia mengalami surplus neraca perdagangan dengan Israel, kata Amalia.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia surplus US$4,47 miliar pada Maret 2024. Catatan ini memperpanjang tren surplus perdagangan selama 47 bulan berturut-turut.

Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan surplus perdagangan pada Maret 2024 meningkat sebesar $2,65 miliar dibandingkan bulan sebelumnya.

“Pada Maret 2024, neraca perdagangan tercatat surplus sebesar USD 4,47 miliar. Naik secara bulanan sebesar USD 2,65 miliar,” kata Amalia dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (22/04/2024). .

Amalia juga mencatat bahwa tren bullish ini memperpanjang hasil positif dari Mei 2020.

Oleh karena itu, perekonomian perdagangan Indonesia mengalami surplus selama 47 bulan berturut-turut sejak Mei 2020, ujarnya.

Dia menjelaskan, surplus perdagangan Maret 2024 ditopang oleh surplus produk nonmigas sebesar US$6,51 miliar. Surplus bahan baku utama sebagian besar berasal dari bahan bakar mineral (HS 27), lemak dan minyak nabati hewani (HS 15), serta besi dan baja HS 72.

“Saya katakan surplus neraca perdagangan nonmigas pada Maret 2024 lebih tinggi jika kita bandingkan dengan bulan lalu, dan juga dibandingkan Maret tahun lalu. Sementara itu, neraca perdagangan migas menunjukkan peningkatan. defisit sebesar $2,04 miliar. Defisit ini tentu saja disumbang oleh minyak dan turunan minyak mentah, jelasnya.

By admin

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *