Mon. May 27th, 2024

IHSG Rontok, Bagaimana Strategi Investasi Sahamnya?

By admin May11,2024 #IHSG #Iran #Israel #rupiah #Saham #The Fed

matthewgenovesesongstudies.com, Jakarta – Indeks Harga Saham (IHSG) bergerak ke zona merah pada perdagangan Jumat 19 April 2024. Hal ini sejalan dengan sentimen global akibat konflik Israel-Iran. Lalu bagaimana strategi investasi pasar saham?

IHSG turun 1,11 persen menjadi 7.087,31 menurut data RTI. Indeks LQ45 turun 1,62 persen menjadi 920,31. Sebagian besar indeks saham acuan berada di bawah tekanan.

Memasuki akhir pekan, IHSG sempat mencatatkan tertinggi 7.167,20 dan terendah 7.036,20. Sebanyak 456 saham melemah dan 115 saham menguat. 2.024 saham masih beredar. Total frekuensi perdagangan sebanyak 1.212.001 kali dan volume perdagangan sebanyak 18,9 miliar lembar saham. Volume transaksi hariannya sebesar Rp 13,8 triliun.

Pengamat Pasar Modal sekaligus pendiri Traderindo.com Wahyu Laksono mengatakan koreksi IHSG kali ini didorong oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan sentimen global. Ketika Israel melancarkan serangan balasan terhadap Iran. Di sisi lain, The Fed belum bisa memastikan apakah akan segera memangkas atau mempertahankan suku bunganya mengingat perkembangan perekonomian terkini.

Intinya, IHSG dan IDR global berada dalam tekanan dari kebijakan The Fed yang biasanya enggan melakukan pelonggaran penurunan suku bunga, menundanya, dan menurunkan besarannya pada tahun ini dibandingkan rencana awal atau pertengahan 2023. Jadi, emiten sepertinya menunggu. dan lihatlah,” kata Wahyu kepada matthewgenovesesongstudies.com, Jumat (19/4/2024).

Saat itu, Wahyu mengatakan, momentum yang tepat adalah fokus pada saham-saham yang fundamentalnya bagus. Investor bisa mengincar saham tersebut dengan harga yang relatif murah. Emiten-emiten bagus tersebut diasumsikan berpotensi menghasilkan keuntungan dalam jangka panjang. “Namun perekonomian dalam negeri masih stabil. Jadi ini strategi akuisisi yang lemah,” kata Wahew.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana mengatakan, IHSG hari ini dibuka flat dan saat ini berada di atas 1%. Menurut dia, hal ini disebabkan oleh kembalinya konflik geopolitik di Timur Tengah.

“Israel diketahui menyerang Iran, kemudian akibat tindakan tersebut rupee melemah terhadap dolar,” ujarnya saat dihubungi matthewgenovesesongstudies.com.

Namun di sisi lain, ia melihat emiten komoditas di IHSG menguat akibat kenaikan harga komoditas global seperti emas dan minyak mentah.

“Secara teknikal IHSG sudah menyentuh 7.066 dan 7.045 sebagai support terdekat, sehingga skenario terburuknya IHSG mengarah ke 6.983-7.012 sebagai area koreksi selanjutnya,” kata Herditya.

Demikian dilansir Desmond Vira, pengamat pasar modal. Menurut dia, serangan Israel ke Iran menimbulkan suasana negatif bagi IHSG. Hal ini juga dapat memicu perang dan memberikan tekanan pada perekonomian.

Sementara itu, Irwan Suzandi, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, mengatakan pasar saham di kawasan Asia, termasuk Indonesia, bereaksi negatif terhadap eskalasi hubungan Israel dan Iran. Menurut dia, berdasarkan data terakhir, seluruh pasar saham Asia berbalik dari 0,40 persen menjadi 3,31 persen.

Artinya, ada saham-saham yang turun lebih dalam dibandingkan Indonesia, seperti Filipina (-1,71 persen), Vietnam (-1,93 persen), Thailand (-1,81 persen), dan Jepang (-2,54 persen),” ujarnya. .

Irwan berharap konflik Israel dan Iran tidak berujung pada perang terbuka antara kedua negara, karena berdampak pada banyak negara lain. “Tentunya kami selalu memantau segala perkembangan dan berkoordinasi dengan AAC dan SRO lainnya,” kata Irwan.

Sebelumnya, Iran menyerang Israel karena menyerang kedutaan Iran di Damaskus, ibu kota Suriah. Akibat serangan ini, bagaimana pengaruhnya terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)?

Eisenhower Rekan Ekonom Indonesia Bambang S. Brodjonegoro menjelaskan, alasan utama pergerakan IHSG saat ini adalah tingginya suku bunga The Fed.

“Kami melihat IHSG sebelum ramai dengan Iran dan Israel, permasalahan utamanya adalah tingginya suku bunga yang lebih mempengaruhi IHSG. Jika The Fed mengambil keputusan yang tidak sejalan dengan pasar, maka akan terjadi arus modal keluar. “Instrumen di Indonesia ada dua, yaitu SBN dan saham,” kata Bambang dalam acara bincang seru dampak konflik Iran-Israel terhadap perekonomian Indonesia, Eisenhower Fellowship Indonesia Alumni Chapter, Senin (15/4/2024).

Bambang menjelaskan, pemegang saham asing di IHSG terbagi dalam dua kelompok, yakni kelompok jangka panjang dan jangka pendek. Menurutnya, dalam kondisi saat ini, kelompok jangka pendek akan memindahkan asetnya ke area yang lebih aman seperti dolar AS atau obligasi AS.

“Saya melihat tekanan terhadap IHSG lebih besar, namun tekanan tersebut juga disebabkan oleh dampak kenaikan suku bunga. “Jika melihat dampak konflik Iran-Israel, dolar AS dan Treasury akan terus diburu sehingga akan memberikan tekanan pada IHSG karena masyarakat memilih dolar AS,” jelasnya.

Namun, menurut Bambang, dengan banyaknya emiten besar yang membagikan dividen, hal tersebut diharapkan dapat mengurangi tekanan terhadap IHSG.

By admin

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *