Fri. Jun 14th, 2024

Pungli dan Sampah Jadi Masalah Utama di Musim Libur Lebaran 2024

matthewgenovesesongstudies.com, Jakarta – Kementerian Pariwisata dan Pembangunan Ekonomi (Kemenparekraf) menjelaskan beberapa hal yang akan menjadi tema utama hari raya saat Idul Fitri kembali pada tahun 2024. Perilaku membuang sampah sembarangan.

“Di Pantai Pangandaran terdapat tumpukan sampah. Meski tersedia banyak kantong sampah, namun banyak masyarakat yang tidak menaati aturan sehingga sampah akhirnya meluap ke jalan sehingga menimbulkan masalah. Bau,” Aditya Madinha Nice Nia Niscaya, Kapolsek Pakar Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparakref) mengikuti acara bincang pekan ini bersama Sandi Uno pada Selasa, 16 April 2024 di Graha Sapta Widya, Jakarta Selatan.

Sementara itu, Nia, yang menggantikan Menteri Pariwisata dan Perekonomian Sandiaga Uno, mengatakan “pencungkilan harga” dan pungutan liar di banyak destinasi wisata menjadi salah satu isu terkait libur Idul Fitri 2024.​

“Saya kira banyak hal seperti pengaturan lalu lintas, parkir liar, dan penataan parkir yang harus menjadi perhatian para pemangku kepentingan,” kata Nia.

Ia pun mengapresiasi upaya pihak kepolisian dalam menangani peristiwa pungli di kawasan Simpang Lima, Semarang. Nia juga mengatakan Kementerian Pariwisata dan Pembangunan Ekonomi menginstruksikan pemerintah daerah untuk aktif mencegah dan memberantas pembajakan dan parkir ilegal di kawasan wisata.

Nia juga mengatakan, selain aktivitas pascalibur dan pembuangan sampah, wisatawan dan trafik juga meningkat signifikan dan menyebar ke seluruh jalan menuju tempat wisata di Pulau Jawa.

Selain membahas permasalahan libur Idul Fitri 2024, Nia juga membagikan hasil survei yang dilakukan Kementerian Pariwisata dan Pembangunan Ekonomi terhadap 1.758 responden pada April hingga 14 April 2024. wisnus) memilih pergi berlibur. Dari mereka yang pergi ke pantai atau danau, 50,8% pergi ke restoran.

Sementara itu, 29,9% wisatawan asing memilih pergi ke taman hiburan dan kebun binatang, dan 26,6% wisatawan asing memilih pergi ke pusat perbelanjaan. Selain itu, data menunjukkan sebagian besar wisatawan mancanegara memilih berwisata bersama keluarga dengan proporsi mencapai 89,9%.

Moda transportasi utama adalah mobil pribadi sebesar 74,0%. Para wisatawan ini juga biasanya memilih wisata sehari atau day trip.

Tempat menginap yang paling umum adalah hotel bintang lima, terhitung 34,6%, diikuti oleh B&B, menyumbang 26,9%. Di antara sekian banyak tempat wisata, Malioboro, Ciwidey, Pangandaran, Parangtritis dan Puncak Bogor menjadi pilihan utama wisatawan mancanegara untuk berlibur.​

Pengunjung ke Pulau Jawa mendominasi pemberitaan karena jumlah penduduk yang besar dan aktivitas yang tinggi saat Idul Fitri, kata Niya. Selain itu, Nia mengatakan adanya pergerakan masyarakat pada libur Idul Fitri tahun ini akan meningkatkan omzet perekonomian hingga Rp 369,8 T.

“Belanja perjalanan per kapita sebesar Rp2,73 juta,” ujarnya. Saat ini, tergantung lama perjalanannya, wisatawan asing yang melakukan perjalanan selama satu hari dapat membayar masing-masing sebesar Rp904.500, sedangkan wisatawan asing yang berlibur lebih dari seminggu dapat membayar hingga Rp7,6 juta.

Pengeluaran ini terutama merupakan biaya hidup. Sisanya, kata Nia, digunakan untuk transportasi, makanan dan minuman, serta oleh-oleh.

“Permasalahan tersebut dapat diatasi melalui dampak perpanjangan masa cuti tahun lalu dan kebijakan memperbolehkan PNS memperpanjang cuti setelah libur Idul Fitri,” imbuhnya.

Selain berbicara mengenai permintaan, penelitian tersebut juga mengungkap beberapa keluhan wisatawan asing. Keluhan yang paling umum adalah masalah lalu lintas, disusul dengan keluhan kepadatan di tempat-tempat wisata yang ditunjuk.

Selain itu, Nia juga mengatakan kenaikan harga dan minimnya barang di kawasan wisata menjadi salah satu permasalahan yang diutarakan wisatawan terkait libur bantuan 2024.

Dalam pertemuan yang sama, Niya juga meminta pengelola tempat wisata dan wisatawan untuk mengikuti prinsip CHSE (Cleanliness, Health, Safety, dan Environmental Sustainability). “Tidak hanya pengusaha yang mendukung CHSE, wisatawan juga harus bekerja sama untuk proyek ini,” ujarnya.

Mengenai protokol pariwisata CHSE, Nia mengatakan pelaksanaannya tidak boleh berhenti meski pandemi COVID-19 merebak. Ditegaskannya, Kementerian Pariwisata dan Pembangunan Ekonomi masih menuntut implementasi perjanjian tersebut dan mengingatkan para pengusaha pariwisata sebelum memasuki pekan libur bantuan tahun 2024.

“Untuk persiapan liburan, Kementerian Pariwisata dan Perekonomian merekomendasikan operator untuk mempersiapkan dan memelihara sarana dan prasarana, memastikan penerapan karakteristik CHSE, memberikan perhatian khusus untuk membuat perjalanan aman dan nyaman,” tambahnya.

Sertifikasi CHSE adalah proses sertifikasi untuk menerbitkan sertifikasi kepada perusahaan pariwisata, destinasi pariwisata, dan produk pariwisata lainnya. Sertifikat diperlukan untuk membuktikan bahwa pengunjung mematuhi peraturan kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan lingkungan.

By admin

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *