Tue. Jun 25th, 2024

Upaya Pelestarian Naskah-Naskah Kuno Keraton Yogyakarta

 

matthewgenovesesongstudies.com, Jakarta – Penguatan budaya membaca dan literasi, standarisasi dan pengembangan perpustakaan, pengarusutamaan naskah Indonesia menjadi tanggung jawab semua pihak, termasuk Perpustakaan Nasional. Pj Kepala Perpustakaan Nasional, E Aminuddin Aziz sendiri terus mempercepat program pelestarian dan pengarusutamaan naskah kuno nusantara melalui kolaborasi dan kemitraan.

Baru-baru ini, pihaknya menggelar audiensi di Istana Ngyogyakarta Hadiningret Istana Kawedanan Widya Budaya Yogyakarta pada Rabu (24/04/2024), dan disambut oleh Gusti Kanjeng Ratu Hayu.

“Sepengetahuan kami, Perpustakaan Nasional telah melakukan berbagai program digitalisasi sejak tahun 2017. Saat ini tahun 2023 adalah tahun kita akan menerima banyak naskah dari masyarakat, antara lain 37 naskah Batak, 38 naskah Bugis dan Jawa, Daun Palem Bali, Proyek Bollinger dan naskah-naskah lainnya,” kata Amin.

Amin melaporkan, pada tahun 2009, Perpustakaan Nasional telah melakukan digitalisasi terhadap 7 judul naskah Keraton Yogyakarta, antara lain Serat Sujarah Aji, Babad Ngayogyakarta HBV, Serat Kyahi Bratayudha, Serat Damaravulan, Buku Bergambar Prajurit Keraton Ngayogyakarta Javabgun, dan Keraton Robyun. Ini menyimpan salinan digital manuskrip.

Namun, Perpustakaan Nasional tidak diperbolehkan menyediakan salinan digital naskah-naskah tersebut kepada masyarakat umum.

Amin menyimpulkan, “Kemudian mulai tahun 2013 Keraton Jogja melakukan digitalisasi sendiri dan Perpusnas tidak mendigitalkan naskah ini, melainkan kita mendigitalkan naskah lainnya.” 

Amin berharap Keraton Yogyakarta memberikan izin kepada Perpustakaan Nasional untuk membuka akses masyarakat terhadap naskah digital Keraton Yogyakarta milik Perpusnas.

Amin bertanya, “Haruskah Keraton Yogyakarta dibuka untuk umum melalui softcopy di Perpustakaan Nasional, apakah dibuka kembali untuk diteliti oleh para peneliti, dan apakah boleh dijadikan sumber belajar bagi pengunjung Perpustakaan Nasional?” “

Sementara itu, Gusti Hayu menegaskan, sebaiknya naskah-naskah Istana Yogakarta diklasifikasi terlebih dahulu agar bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Karena sebagian dari teks-teks tersebut bersifat sakral dan diperlukan bantuan untuk menafsirkan isi yang terkandung dalam teks-teks tersebut.

Intinya, koleksi di Perpustakaan Vidya Budaya pun dibatasi oleh apa yang terbuka untuk umum, apa yang harus didampingi saat membaca, dan apa yang tidak bisa dilakukan oleh sebagian orang, kata Gusti.

Dari sisi konservasi, pihak keraton juga merasa perlu untuk menyimpan salinan cadangan di berbagai lokasi koleksi naskah milik Keraton Yogyakarta sebagai upaya pelaksanaan penanggulangan bencana.

“Yah, mungkin kita akan senang dengan kesempatan ini, misalnya kita bisa merinci prosedurnya, perpustakaan kita juga mulai lebih terorganisir sehingga kita bisa mengontrol apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di luar istana,” tanya Gusty Hugh. .

Gusti Hayu pun ingin mendapatkan salinan koleksi terkait naskah Istana Yogakarta milik Perpustakaan Nasional. Istana berharap memberi mereka akses terhadap arsip, termasuk peta wilayah tersebut.

“Dulu banyak koleksi naskah yang keluar tanpa informasi keraton, terutama peta tanah, karena Keraton Yogyakarta juga sedang dalam proses rekonstruksi, sehingga Nagarso Dalem (Bapak Sultan) memerintahkan agar keraton dibangun lebih banyak. Sebisa mungkin agar bisa dikembalikan ke tata letak aslinya,” jelas Gusty Huey.

 

Fajr Vijanarko dari Museum Sonobudyo melaporkan, mereka juga menyaksikan sekitar tahun 2010 hingga 2011, ketika Universitas Leipzig bekerja sama dengan Museum Sonobudyo, Istana Paculamon, dan Balai Bahasa untuk kegiatan digitalisasi naskah di istana.

“Pada tahun 2010, Pakulman menyadari bahwa aset naskah lembaga ini bersifat turun temurun, sehingga saat itu Gusti Pakulman yang ke-9 memutuskan untuk menyimpan aset naskah tersebut. Jadi sampai saat ini dia sendiri yang mendigitalkannya,” kata Fajar.

Fajar juga berharap dapat memperoleh salinan digital Keraton Yogyakarta milik Perpustakaan Nasional. Jadi Keraton Yogyakarta juga bisa menyediakan salinan digital dari koleksi tersebut untuk dibaca masyarakat, dengan syarat diurutkan sesuai aturan Istana.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Perpustakaan Vidya Budaya Keraton Yogyakarta Kanjeng Tirto menjelaskan Perpustakaan Vidya Budaya yang dikenal dengan Perpustakaan Keraton merupakan pusat penyimpanan arsip, naskah, naskah dan buku.

Kuil Kanjeng mengundang Platt. Kepala Perpustakaan Nasional akan menjaga kondisi arsip, naskah atau naskah yang beberapa di antaranya kondisi fisiknya sangat memprihatinkan.

Maklum, pustakawan istana Vidya Budaya itu jauh dari kata-kata sehingga tidak tahu cara menata dan menyimpan buku dengan baik, sehingga perlu bantuan dalam mengelola naskah-naskah tersebut, kata Kanjeng.

By admin

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *