Tue. Jun 25th, 2024

Rumah Dekat Guest House MER-C Indonesia Kena Serangan Udara Israel, Relawan Selamat dan Dievakuasi

matthewgenovesesongstudies.com, Gaza – Kabar mengenaskan datang dari relawan MER-C Indonesia di Gaza. Serangan udara menargetkan salah satu rumah di dekat wisma mereka di kota Rafah di Jalur Gaza selatan pada Jumat (17 Mei 2024) waktu setempat.

Seluruh relawan selamat dan dalam kondisi baik, namun beberapa bagian wisma rusak akibat guncangan tersebut, kata MER-C di Jakarta, Sabtu (18 Mei), dikutip Antara.

Peristiwa tersebut disebut terjadi sekitar pukul 16.53 WIB saat tim MER-C Jakarta Pusat sedang berkomunikasi dengan salah satu relawannya di wilayah Palestina.

Organisasi medis dan kemanusiaan Indonesia tersebut mengatakan, saat ini seluruh relawannya telah direlokasi ke wisma MER-C baru di kawasan Almawasi.

MER-C menyatakan telah berkoordinasi dengan Sel Koordinasi Tim Tanggap Darurat WHO (EMTCC) di Gaza dan Kairo, serta Kementerian Luar Negeri RI mengenai perkembangan situasi tersebut.

Dalam pernyataannya, MER-C juga meminta doa seluruh masyarakat Indonesia untuk keselamatan para relawannya.

Sekadar informasi, pasukan Israel telah menyerang Jalur Gaza sejak serangan lintas batas yang dilakukan Hamas pada 7 Oktober tahun lalu yang menewaskan sekitar 1.200 warga Israel.

Menurut pihak berwenang Gaza, lebih dari 35.200 warga Palestina telah terbunuh, kebanyakan dari mereka adalah wanita dan anak-anak, dan lebih dari 79.200 lainnya terluka sejak pendudukan Israel dimulai.

Selama lebih dari tujuh bulan perang yang dimulai oleh Israel, sebagian besar Jalur Gaza telah hancur sementara akses terhadap makanan, air bersih dan obat-obatan tidak diberikan.

Sebelumnya, organisasi bantuan sosial MER-C Indonesia mengatakan, upaya sembilan relawannya untuk berangkat ke Kairo, Mesir, setelah menyelesaikan tugasnya di Jalur Gaza bagian selatan terhambat akibat invasi darat Israel di Rafah.

“Yang ingin saya jelaskan pada kesempatan ini adalah, dalam situasi yang terjadi sejak 6 Mei 2024, sembilan relawan MER-C yang saat itu sedianya akan kembali ke Kairo karena sedang menyelesaikan tugasnya di selatan telah menerima bantuan. Gaza dihentikan, yaitu pada saat “tim sudah siap menuju gerbang perbatasan…kemudian kami mendapat informasi bahwa situasi di perbatasan sudah sangat sulit untuk proses transisi, sehingga seluruh tim diminta untuk “dan tunda proses keluarnya,” kata salah satu anggota kepresidenan MER-C, yang juga ketuanya. EMT MER-C Indonesia Arief Rachman pada konferensi pers, Rabu (15 Mei).

 “Ini juga berlaku untuk tim yang menuju Rafah… mereka diminta untuk kembali.”

Lebih lanjut, Arief mengatakan, saat ini terdapat tim penyelamat ketiga di Gaza bagian selatan yang terdiri dari seorang ahli bedah plastik, seorang ahli bedah ortopedi, seorang dokter keluarga, seorang dokter umum, dan empat orang perawat.

“Selain tiga tenaga medis kami (MER-C), dua di antaranya sebelumnya berada di Jalur Gaza dan kemudian juga melarikan diri ke selatan akibat serangan di Gaza utara. Jadi totalnya masih ada 12 orang di selatan Gaza, kata Arief.

“Saat ini ada tim keempat yang standby di Kairo, jadi tunggu situasi perbatasan. Kalau situasi sudah stabil, katakanlah gencatan senjata permanen, situasinya baik, maka teman-teman tim keempat bisa pindah ke Rafah atau jika nanti visanya habis ternyata syaratnya tidak terpenuhi. Yang pasti tim keempat ini akan kembali ke Indonesia.”

Tim beranggotakan empat orang ini terdiri dari seorang dokter kandungan, seorang ahli bedah, seorang ahli anestesi, seorang dokter umum, seorang dokter gigi dan dua orang perawat.

“Perkembangan terkini tim penyelamat yang saat ini ditempatkan di Kairo mengurangi kapasitas maksimal tim yang datang, yakni tujuh orang. Tadinya yang boleh keluar negeri 11 orang… sekarang maksimal tujuh orang,” kata Arief.

Saat ini ada tiga wilayah di selatan Jalur Gaza yang menjadi lokasi tim ditugaskan. Yang pertama adalah Rumah Sakit Abu Yusuf An-Najjar yang mempekerjakan dokter relawan spesialis bedah dan trauma. Yang kedua di Rumah Sakit Ibu dan Anak Al Hilal Al Emirates dan yang terakhir di klinik yang menyediakan layanan kesehatan dasar, vaksinasi, dan perawatan yang sangat terspesialisasi.

Nah, akibat penyerangan tersebut, RS Abu Yusuf An-Najjar dan RS Ibu dan Anak Al Hilal Al Emirates masuk dalam zona merah, sehingga teman-teman yang bekerja di RS tersebut tidak bisa lagi bekerja di sana dan hanya bekerja di sana. bahwa mereka hanya berlokasi di daerah yang aman. Saya juga harus sampaikan bahwa dalam situasi saat ini, ketika kita berbicara tentang situasi keamanan, yang dimaksud bukan hanya keselamatan di tempat kerja, tapi juga seberapa aman saat berangkat kerja,” ujarnya. anggota Presidency MER-C yang juga menjabat sebagai Kepala EMT MER-C Indonesia Arief Rachman.

Oleh karena itu, lokasi dan pergerakan tim harus dilaporkan ke EMT-CC (EMT Command Center), kemudian dikirimkan ke pihak-pihak yang membutuhkan agar nantinya dapat diketahui bahwa pergerakan tersebut bukanlah musuh. “

Arief Rachman, Anggota Presidency MER-C sekaligus Ketua MER-C EMT Indonesia, Arief Rachman mengaku pihaknya saat ini sedang mempertimbangkan untuk memindahkan akomodasi para relawan ke tempat yang lebih aman mengingat akomodasi mereka saat ini cukup besar. dekat timur Rafah, yang menjadi sasaran serangan Israel.

“Dalam situasi ini, kami MER-C melalui penasihat kami terus berkoordinasi dengan baik dengan EMT-CC, WHO dan pihak lainnya agar kami dapat segera memperoleh informasi yang dapat kami sebarkan untuk menjamin keselamatan teman-teman relawan kami yang berada di sana. langkah tersebut “Kami sedang bekerja di lapangan dan dapat menularkannya kepada keluarga-keluarga sehingga mereka memahami apa yang terjadi pada anggota keluarga mereka di Gaza selatan,” kata Arief.

“Kami sangat berharap upaya perundingan dapat tercapai dengan cepat dan dibukanya perbatasan bagi kepulangan relawan ke negaranya. Jika berhasil, MER-C akan memfasilitasi proses kepulangan relawan yang telah bertugas agar dapat segera kembali ke negaranya. Negara sekali lagi: “Kami akan memantau perkembangan yang muncul dan situasi yang dapat terjadi dengan sangat cepat,” Sampaikan kepada keluarga dan pihak lain sedemikian rupa sehingga informasinya jelas dan tidak menyampaikan asumsi sehingga menjadi bola panas yang membuat situasi tidak terkendali.”

By admin

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *